Pemurnian Jiwa di Atas Bara Api Hiwatari Sai
- https://www.gotokyo.org/en/spot/ev179/index.html
Prosesi Ritual Saito Goma
Ritual Hiwatari Sai dimulai sekitar pukul 1 siang dan berlangsung selama beberapa jam. Para Yamabushi, mengenakan jubah tradisional mereka yang khas, memimpin upacara dengan serangkaian langkah yang sangat formal dan khidmat. Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa prosesi yang dijalankan, yakni sebagai berikut:
1. Pembakaran Tablet Doa (Goma-ki)
Sebelum api unggun dinyalakan, tumpukan kayu yang digunakan tidak hanya berfungsi sebagai bahan bakar, tetapi juga sebagai tempat pembakaran ribuan potong kayu kecil berukir doa yang disebut Goma-ki. Potongan-potongan ini telah diukir dengan nama, usia, dan permohonan dari para umat. Mulai dari doa untuk kesehatan, umur panjang, keberuntungan, perdamaian dunia, hingga perlindungan dari kecelakaan lalu lintas. Ketika api membakar kayu-kayu ini, diyakini bahwa keinginan tersebut akan diantar ke alam dewa dan Buddha.
2. Ritual Pemurnian dan Pengekangan Roh Jahat
Saat api berkobar hebat, para biksu Yamabushi mulai mendaraskan mantra dan melakukan ritual pemurnian. Mereka menggunakan pedang, tombak, dan busur, serta mencambuk diri mereka sendiri dengan dahan pohon untuk mengusir roh jahat dan menyucikan area upacara. Asap tebal yang mengepul dari pembakaran kayu dan tablet doa menciptakan suasana mistis dan sakral.
3. Berjalan Kaki di Atas Bara
Fase yang paling dinantikan adalah ketika api telah mereda dan hanya menyisakan tumpukan besar bara api yang menyala dan menghitam. Sebelum para biksu berjalan, bara tersebut disiapkan dan didinginkan sedikit dengan abu atau garam yang juga berfungsi sebagai pemurni. Para Yamabushi kemudian berjalan melintasi jalur bara yang masih panas dengan kaki telanjang sambil melantunkan doa. Tindakan ini melambangkan penaklukkan kesulitan duniawi dan pemurnian total jiwa dan raga mereka.
Secara keseluruhan, Hiwatari Sai bukan hanya festival lokal, tetapi sebuah warisan budaya yang menawarkan jendela unik ke dalam praktik asketisme gunung Jepang yang langka. Bagi pengunjung, ini adalah kesempatan langka untuk menyaksikan ritual yang kuat, khidmat, dan penuh warna, yang menjadi pengingat abadi akan pentingnya disiplin, iman, dan pemurnian spiritual dalam budaya Jepang.