Mengenal Tradisi Tato Mentawai Sebagai Seni Lukis Tubuh Tertua Di Dunia
- https://www.bbc.com/indonesia/majalah-57053742
Tradisi, VIVA Bali –Budaya merajah tubuh atau tato seringkali dianggap sebagai gaya hidup modern bagi masyarakat perkotaan. Namun bagi suku Mentawai di Sumatera Barat, tato bukan sekadar hiasan melainkan identitas diri yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Seni rajah yang dikenal dengan nama Titi ini disebut-sebut sebagai tradisi tato tertua di dunia, mengalahkan popularitas tato dari Mesir atau Hawaii.
Dilansir dari laman Kemdikbud, tato bagi masyarakat Mentawai berfungsi sebagai simbol keseimbangan alam dan status sosial dalam komunitas adat. Setiap garis yang terukir di kulit memiliki makna mendalam terkait hubungan manusia dengan roh leluhur dan lingkungan sekitar. Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional yang sangat jauh dari sentuhan teknologi modern.
Filosofi Garis Dan Makna Kehidupan Suku Mentawai
Dikutip dari jurnal penelitian Universitas Andalas, motif tato Mentawai tidak diambil secara sembarangan melainkan mengikuti bentuk-bentuk alam seperti duri rotan, pohon sagu, hingga hewan buruan. Setiap pola yang digoreskan pada lengan, dada, hingga kaki mencerminkan keahlian atau peran seseorang dalam suku tersebut. Misalnya, seorang pemburu akan memiliki motif yang berbeda dengan seorang Sikereai atau dukun adat.
Selain sebagai penanda strata, tato ini dipercaya sebagai sarana untuk membawa roh pemilik tubuh menuju alam keabadian dengan mudah. Masyarakat setempat meyakini bahwa tanpa tato, roh mereka tidak akan dikenali oleh para leluhur saat sudah meninggal dunia nanti. Oleh karena itu, proses penatoan dilakukan dalam beberapa tahap kehidupan, mulai dari masa remaja hingga dewasa.
Proses pembuatan tato ini melibatkan seorang seniman tato tradisional yang disebut Sipatiti. Dilansir dari dokumentasi National Geographic, peralatan yang digunakan terdiri dari jarum kayu atau tulang hewan yang dipukul secara perlahan menggunakan kayu pemukul. Tinta yang digunakan pun berasal dari bahan alami, yakni campuran jelaga asap lampu atau arang kayu yang dicampur dengan air tebu.
Meskipun proses ini memakan waktu lama dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, warga Mentawai menjalaninya dengan penuh kebanggaan. Hal ini dikarenakan tato dianggap sebagai pakaian abadi yang akan dibawa hingga mati. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini terus diupayakan untuk tetap lestari sebagai warisan budaya dunia yang tak ternilai harganya dari bumi Nusantara.