Makna Sakral Rumah Adat Klan Lein di Flores Timur
- https://unsplash.com/id/foto/gubuk-nipa-hitam-di-siang-hari-uRSk8pT0Elg?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink
Budaya, VIVA Bali – Rumah Adat Klan Lein bukan sekadar struktur tempat tinggal biasa, melainkan cerminan identitas dan budaya khas yang harus dilestarikan oleh generasi penerus. Bangunan ini merupakan warisan leluhur yang mencirikan kebudayaan daerah tersebut, membedakannya dari budaya daerah lain di Indonesia.
Secara khusus, serba-serbi rumah ini diangkat dalam jurnal berjudul "Arsitektur Rumah Adat Klan Lein Dan Fungsinya Sebagai Bentuk Kearifan Lokal Bagi Masyarakat Desa Lite Kecamatan Adonara Tengah Kabupaten Flores Timur". Penelitian diinisiasi Nini Sari Kolo, Samingan, dan Anita, dari prodi Pendidikan Sejarah Universitas Flores.
Jejak Sejarah dan Mitologi Pendirian
Sejarah pendirian Rumah Adat Klan Lein dikaitkan dengan kisah mitologis antara Ama Raya Laga Doni Tana Ekan, kepala suku pertama, dan istrinya, Nini Sari Kolo. Dikisahkan bahwa Ama Raya Laga Doni Tana Ekan, seorang petani, di kebunnya di lokasi Wai Teet, bertemu dengan tujuh putri dari bulan yang turun untuk mandi.
Setelah Ama Raya Laga Doni Tana Ekan menyembunyikan sayap putri bungsu, Nini Sari Kolo, yang akhirnya ditinggal oleh keenam saudarinya dan kemudian menikah dengannya, ia kemudian diperintahkan untuk membangun rumah adat sebagai tempat tinggal mereka.
Kisah ini menjadi fondasi historis yang membentuk karakter klan Lein dan memupuk rasa persatuan di antara keturunannya. Ini adalah wujud dari nilai sejarah yang membentuk karakter berbudi luhur dan bersopan santun sesama manusia.
Arsitektur Penuh Makna dan Simbol
Rumah Adat Klan Lein memiliki bentuk khas persegi empat yang melambangkan persatuan masyarakat dan empat penjuru mata angin. Rumah didirikan dari bahan-bahan alami di lingkungan mereka, seperti kayu, bambu, dan alang-alang. Uniknya, bangunan ini didirikan tanpa menggunakan paku sama sekali, melainkan diikat dengan Tali Krag'ge (Tali Daun Koli).
Setiap komponen arsitektur menyimpan makna yang mendalam, dimulai dari Alang-alang sebagai atap. Alang-alang adalah simbol keyakinan yang memberikan perlindungan, keteduhan, dan kenyamanan dari berbagai gangguan, termasuk wabah penyakit, bencana alam, dan roh-roh jahat.
Kemudian, Tanduk kerbau yang diletakkan di atas bumbungan atap dipercaya nenek moyang untuk menyelamatkan masyarakat dari gangguan roh-roh jahat dan bencana alam. Sementara itu, tujuh batang bambu bulat yang dijadikan tiang melambangkan tujuh putri dari bulan.