Seren Taun, Pesta Syukur Panen dan Harmoni Alam Budaya Sunda
- https://kuningankab.go.id/home/upacara-puncak-seren-taun-digelar-berbagai-kesenian-di-tampilkan/
Tradisi, VIVA Bali –Upacara adat Seren Taun adalah perayaan agraris yang sakral dan meriah bagi masyarakat adat Sunda. Tradisi ini berakar kuat di berbagai wilayah, seperti di Kasepuhan Cisungsang (Lebak, Banten), Paseban Cigugur (Kuningan, Jawa Barat), hingga Bogor dan Sukabumi. Pada tahun 2016, Seren Taun telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pengakuan ini mencerminkan kekayaan budaya Nusantara yang tidak ternilai harganya.
Makna Filosofis dan Ungkapan Syukur
Secara etimologis, Seren Taun berasal dari dua kata Bahasa Sunda, yakni seren yang berarti serah, seserahan, atau menyerahkan, dan taun yang berarti tahun. Oleh karena itu, Seren Taun dimaknai sebagai ritual serah terima tahun yang telah berlalu ke tahun yang akan datang.
Filosofi dan tujuan utama perayaan ini sangat mendalam, yakni sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atau kepada sosok spiritual yang diyakini sebagai dewi padi, Nyi Pohaci Sanghyang Asri atas melimpahnya hasil panen selama satu tahun penuh. Selain sebagai pesta panen, ritual ini juga merupakan sarana memohon keberkahan dan kesejahteraan agar hasil bumi di tahun berikutnya tetap melimpah. Pelaksanaan puncak Seren Taun umumnya jatuh pada tanggal 22 Rayagung dalam kalender Saka Sunda.
Rangkaian Prosesi Adat yang Sarat Pesan Leluhur
Seren Taun bukanlah perayaan singkat, melainkan serangkaian ritual panjang yang melambangkan siklus kehidupan agraris dan melibatkan partisipasi seluruh masyarakat. Di Kasepuhan Cisungsang, rangkaian acara dimulai dengan ritual pra-puncak, seperti Rasul Pare di Leuit, yaitu prosesi sakral penyimpanan padi ke dalam lumbung (leuit) sebagai upaya konservasi stok pangan.
Dilanjutkan dengan Salamat Beberes Ngueh (selamatan selesainya pembuatan kue). Prosesi inti lainnya mencakup Balik Taun Rendangan, yakni pertemuan dan laporan dari para ketua kelompok adat (Rendangan) kepada ketua adat utama atau Abah di Imah Gede. Bagian yang tak kalah sakral adalah Ngareremokeun, ritual persembahan pujian yang dilantunkan oleh para tetua, dan Ritual Bubuka yang menyajikan kesenian Sunda, termasuk saling lempar pantun tradisional.