Onggoloco dan Pesan Abadi Sang Macan Putih Hutan Wonosadi
- https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/34/White_Bengal_tiger_Miami_MetroZoo.jpg
Tradisi, VIVA Bali –Di balik perbukitan Gunung Kidul yang tandus, tersimpan secuil kawasan hijau yang tetap kokoh bernama Hutan Wonosadi. Keberadaannya bukan sekadar keajaiban alam, melainkan cerminan dari sebuah kearifan lokal yang mengakar kuat di hati masyarakat Dusun Duren dan Sidorejo.
Kearifan ini berpusat pada sebuah legenda kuno tentang seorang senapati Majapahit yang memilih menjadi penjaga abadi, sosok yang dikenal sebagai Raden Onggoloco. Mitos ini telah menjadi fondasi utama dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan selama berabad-abad di tanah Jawa.
Kisah inspiratif ini diangkat dalam sebuah studi kualitatif yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Sebelas Maret, termasuk Alghazali Hafidz dan Suryo Ediyono. Hasil penelitian ini tertuang dalam jurnal Kulturistik dengan judul “Pendekatan Ekologi: Relevansi Mitos Onggoloco Dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Di Jawa”.
Onggoloco diceritakan sebagai mantan senapati Majapahit yang melarikan diri ke Pegunungan Seribu bersama ibunya, Rara Resmi, setelah keruntuhan kerajaan pada tahun 1468 M.
Setibanya di Hutan Wonosadi, mereka bertemu dengan penunggu hutan berwujud macan putih, Gadung Melati, yang memberikan izin tinggal dengan syarat mutlak. Syarat tersebut adalah melestarikan dan tidak merusak hutan, sebuah mandat yang kemudian diwariskan Onggoloco kepada seluruh masyarakat sekitar.
Sosok Onggoloco sangat dihormati karena kemampuannya yang luar biasa, tidak hanya mengajarkan ilmu bela diri (kanuragan) dan keprajuritan, tetapi juga seni dan keterampilan bercocok tanam.
Dia bahkan menjadi teladan utama dalam menanam padi dan mendirikan padepokan di Lembah Ngenuman yang menjadi pusat pembelajaran. Sebelum mencapai keabadian (moksa) di dalam hutan, ia meninggalkan tiga pesan wasiat terakhir yang menjadi pegangan komunitas Wonosadi hingga kini.
Pesan kuncinya adalah agar Hutan Wonosadi harus dijaga dan dilestarikan demi kemakmuran anak cucu, sebab "Merusak hutan akan mendatangkan musibah". Wasiat kedua berkaitan dengan kesehatan, yakni memanfaatkan berbagai jenis tanaman obat yang tumbuh di hutan untuk pengobatan.
Wasiat ketiga adalah agar masyarakat selalu mengadakan Upacara Sadranan setahun sekali setelah panen sawah, yang masih dilestarikan hingga kini untuk memperkuat komitmen spiritual terhadap hutan.