Pemurnian Jiwa di Atas Bara Api Hiwatari Sai

Tradisi Hiwatari Sai di Jepang
Sumber :
  • https://www.gotokyo.org/en/spot/ev179/index.html

Tradisi, VIVA Bali –Di tengah hiruk-pikuk modernisasi Tokyo, Jepang, terdapat sebuah tradisi kuno yang penuh makna spiritual dan masih dilaksanakan secara rutin setiap tahun, yakni Hiwatari Sai (火渡り祭) atau secara harfiah berarti Festival Berjalan di Atas Api. Perayaan ini adalah manifestasi kuat dari praktik asketisme Buddhis dan ritual pemurnian. Salah satu yang menarik dari tradisi ini adalah hadirnya ribuan pengunjung dari seluruh dunia ke kaki Gunung Takao yang berlokasi di pinggiran kota Tokyo.

img_title Sistem Adat dalam Pakaian Bagajah Gamuling Baular Lulut

Festival Hiwatari Sai diadakan secara tahunan pada hari Minggu kedua di bulan Maret, menandai berakhirnya musim dingin dan menyambut datangnya musim semi. Acara utama diselenggarakan di dekat Kuil Takaosan Yakuo-in, sebuah kuil Buddha kuno yang terletak di puncak Gunung Takao. Kuil Yakuo-in memiliki posisi penting karena dikenal sebagai satu dari tiga kuil utama sekte Chisan dari Buddhisme Shingon di wilayah Kanto, bersama dengan Kuil Shinshoji di Gunung Naritasan dan Kuil Heikenji di Kawasaki Daishi.

Akar Sejarah dan Peran Yamabushi

img_title Sistem Adat dalam Cagar Budaya Kepulauan Mentawai

Jantung dari Hiwatari Sai adalah para biksu asketis gunung yang dikenal sebagai Yamabushi. Mereka adalah praktisi ajaran Shugendo, sebuah tradisi sinkretis Jepang yang menggabungkan elemen Buddhis, Shinto, dan kepercayaan animistik. Kepercayaan ini berfokus pada pelatihan spiritual yang keras di pegunungan untuk mencapai kekuatan supranatural dan pencerahan. Bagi para Yamabushi, berjalan di atas bara api bukan sekadar pertunjukan, melainkan praktik spiritual intensif (shugyo) yang menampilkan kedalaman iman dan kemampuan mereka untuk mengatasi materi melalui kekuatan mental dan spiritual.

Dalam keyakinan Buddhisme Jepang, api dipercaya memiliki kekuatan pemurnian yang mendalam, sebuah konsep yang mendasari ritual penting yang disebut goma. Hiwatari Sai adalah puncak dari ritual Saito Goma-ku, sebuah upacara api suci yang rumit. Prosesi dimulai dengan persiapan lahan suci di lokasi terbuka, biasanya di area parkir di kaki gunung, dekat Stasiun Takaosanguchi. Area ini akan disucikan dengan ritual-ritual awal sebelum tumpukan besar kayu kering yang telah disiapkan dibakar dalam sebuah api unggun raksasa.

img_title Nadran, Tradisi Sedekah Laut Nelayan Cirebon yang Kini Jadi Warisan Budaya

Prosesi Ritual Saito Goma

Ritual Hiwatari Sai dimulai sekitar pukul 1 siang dan berlangsung selama beberapa jam. Para Yamabushi, mengenakan jubah tradisional mereka yang khas, memimpin upacara dengan serangkaian langkah yang sangat formal dan khidmat. Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa prosesi yang dijalankan, yakni sebagai berikut:

1. Pembakaran Tablet Doa (Goma-ki)

Sebelum api unggun dinyalakan, tumpukan kayu yang digunakan tidak hanya berfungsi sebagai bahan bakar, tetapi juga sebagai tempat pembakaran ribuan potong kayu kecil berukir doa yang disebut Goma-ki. Potongan-potongan ini telah diukir dengan nama, usia, dan permohonan dari para umat. Mulai dari doa untuk kesehatan, umur panjang, keberuntungan, perdamaian dunia, hingga perlindungan dari kecelakaan lalu lintas. Ketika api membakar kayu-kayu ini, diyakini bahwa keinginan tersebut akan diantar ke alam dewa dan Buddha.

2. Ritual Pemurnian dan Pengekangan Roh Jahat

Saat api berkobar hebat, para biksu Yamabushi mulai mendaraskan mantra dan melakukan ritual pemurnian. Mereka menggunakan pedang, tombak, dan busur, serta mencambuk diri mereka sendiri dengan dahan pohon untuk mengusir roh jahat dan menyucikan area upacara. Asap tebal yang mengepul dari pembakaran kayu dan tablet doa menciptakan suasana mistis dan sakral.

3. Berjalan Kaki di Atas Bara

Fase yang paling dinantikan adalah ketika api telah mereda dan hanya menyisakan tumpukan besar bara api yang menyala dan menghitam. Sebelum para biksu berjalan, bara tersebut disiapkan dan didinginkan sedikit dengan abu atau garam yang juga berfungsi sebagai pemurni. Para Yamabushi kemudian berjalan melintasi jalur bara yang masih panas dengan kaki telanjang sambil melantunkan doa. Tindakan ini melambangkan penaklukkan kesulitan duniawi dan pemurnian total jiwa dan raga mereka.

Secara keseluruhan, Hiwatari Sai bukan hanya festival lokal, tetapi sebuah warisan budaya yang menawarkan jendela unik ke dalam praktik asketisme gunung Jepang yang langka. Bagi pengunjung, ini adalah kesempatan langka untuk menyaksikan ritual yang kuat, khidmat, dan penuh warna, yang menjadi pengingat abadi akan pentingnya disiplin, iman, dan pemurnian spiritual dalam budaya Jepang.