Melambung di Langit Bali, Layang-layang Tradisional Penuh Makna

Layang-layang Bali, Warisan Udara yang Tak Pernah Padam
Sumber :
  • https://etnis.id/layang-layang-yang-dijaga-kelestariannya-di-bali/#:~:text=Di%20Bali%2C%20terdapat%20kisah%20mitologi,dewa%20saat%20musim%20panen%20tiba.

Gumi Bali, VIVA Bali – Layang-layang khas Bali, yang dikenal sebagai layang-layang dalam bahasa setempat, merupakan bagian penting dari budaya masyarakat pulau dewata. Tradisi menerbangkan layangan biasanya dilakukan pada musim kemarau, terutama antara bulan Juni hingga September. Selain sebagai hiburan, layang-layang juga memiliki makna spiritual dan filosofis yang mendalam, menjadikannya lebih dari sekadar permainan anak-anak.

Tiga Jenis Layangan Utama

4 Event Konser di Bali Sepanjang Bulan September 2025

Layang-layang tradisional Bali terbagi menjadi tiga jenis utama yang masing-masing memiliki karakter unik:

- Bebean: Berbentuk ikan, atau bebek dalam bahasa Bali, jenis ini merupakan yang paling populer dan sering terlihat menghiasi langit.

5 Rekomendasi Tempat Bermain Padel di Bali

- Pecukan: Memiliki bentuk paling sederhana, tetapi justru dikenal sebagai yang paling rumit dalam proses pembuatannya.

- Janggan: Layang-layang berbentuk naga dengan ekor sangat panjang yang bisa mencapai puluhan meter. Jenis ini dianggap sakral dan terkait erat dengan kepercayaan Hindu di Bali.

Awig-Awig Bali: Aturan Adat yang Lebih Kuat dari Hukum Negara?

Bentuk layang-layang tradisional dari dulu tidak berubah, hanya teknik pembuatannya yang berkembang. Hal ini karena masyarakat Bali menghormati apa yang telah diberikan oleh leluhur secara turun-temurun. Layang Be-bean, Pecukan, dan Janggan merupakan tiga jenis layang-layang tradisional Bali yang sudah sangat dikenal. Ada beberapa layangan asli pulau Dewata Bali, di antaranya layangan Bebean, layangan Pecukan, dan layangan Janggan.

Halaman Selanjutnya
img_title