Sistem Budaya dalam Wayang Palembang

Pagelaran Wayang Palembang, Palembang, Sumatera Selatan
Sumber :
  • https://www.antarafoto.com/id/view/1743013/pertunjukkan-wayang-palembang

Sistem budaya dalam wayang tidak hanya berupa sistem pagelaran wayang antar wilayah. Tetapi sistem budaya dalam wayang terdapat dalam penggunaan bahasa pengantar agar hadirin yang menyaksikan pagelaran wayang mengerti tema hingga amanat dalam pagelaran wayang. Akulturasi budaya wayang adalah karakteristik budaya yang ditemukan dalam Wayang Palembang.

img_title Sistem Filosofi dalam Layang-layang Jaipur

Sedangkan Wayang Palembang dan Naskah Wayang Palembang adalah produk budaya yang berisi wayang hingga tema naskah Wayang Palembang. Rochmiatun (2021) menemukan contoh “Di Museum Balaputera Dewa tersimpan satu naskah wayang beraksara Jawa yang berjudul Parta Krama”. Rochmiatun (2021) mengkaji “Dalam teks tersebut dikisahkan tentang perkawinan antara Arjuna dengan Dewi Supraba dari kayangan”.

Terdapat Naskah Wayang Palembang berbahasa Jawa dengan Aksara Arab Melayu atau Huruf Arab Jawi hingga amanat di dalamnya. Diuraikan oleh Behndern (dalam Rochimatun, 2021) “Naskah cerita wayang Palembang yang beraksara Arab Melayu dapat di jumpai di Perpustakaan Nasional RI bernomor ML 235”.

img_title Sistem Filosofi dalam Grebeg Sawal

Naskah Wayang Palembang diakui dan digelar untuk menggelar karya sastra dan amanat bagi para hadirin. Dipahami oleh Rochimatun (2021) “Keberadaan naskah-naskah dari Palembang terutama yang bertemakan sastra pada masa Kesultanan Palembang tentunya dapat dipahami, karena Para Sultan Palembang sendiri menunjukkan perhatian dan kegemarannya terhadap kebudayaan dengan menjadi pelindung kegiatan kesusastraan”. Disimpulkan oleh Rochimatun (2021) “Terutama Sultan Mahmud Badaruddin II, yang dikenal juga sebagai pengarang sejumlah karya puisi”. 

Peran filosofi adat dalam Wayang dan naskah wayang menjadi sistem adat dalam struktur masyarakat yang hidup. Filosofi adat mengukir makna hasil akulturasi sehingga menjadi naskah-naskah wayang klasik sebelum Indonesia merdeka 1945. Dianalisis oleh Rusdi (dalam Rochmiatun, 2021) “Meskipun belum jelas sejak kapan dan dari mana asal “wayang Palembang”, namun yang jelas berdasarkan beberapa peninggalan yang masih bisa dijumpai (salah satu contoh adalah naskah cerita wayang) keberadaan wayang Palembang sepertinya pernah eksis pada masa lalu (termasuk pada Masa Kesultanan Palembang)”.

img_title Subak, Warisan Budaya Dunia UNESCO dari Filosofi Tri Hita Karana Bali