Subak, Warisan Budaya Dunia UNESCO dari Filosofi Tri Hita Karana Bali
- https://www.pexels.com/id-id/foto/asia-awan-bali-berawan-654/
Budaya, VIVA Bali –Bali tidak hanya dikenal lewat pantai dan pura, tetapi juga lewat kearifan lokal yang telah diakui dunia, yaitu subak. Berdasarkan laman resmi kniu.kemdikbud.go.id, subak merupakan sistem irigasi tradisional milik para petani Bali yang lebih dari sekadar pengaturan air, sebab di dalamnya juga terkandung konsep kehidupan yang utuh bagi masyarakat setempat.
Makna di Balik Filosofi Tri Hita Karana
Menurut penjelasan yang termuat di laman kniu.kemdikbud.go.id, subak merupakan manifestasi langsung dari filosofi Tri Hita Karana, yang berarti tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan. Filosofi ini terbagi menjadi 3 aspek, yaitu parahyangan atau hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, pawongan atau hubungan harmonis antarsesama manusia, dan palemahan atau hubungan harmonis manusia dengan alam sekitarnya.
Disebutkan dalam laman buleleng.bulelengkab.go.id, ketiga aspek tersebut tertuang dalam sebuah aturan tradisional tertulis yang disebut awig-awig, yang menjadi pedoman bagi setiap anggota subak dalam menjalankan kehidupan bertani sehari-hari. Kata subak sendiri diketahui pertama kali muncul dalam prasasti Pandak Bandung yang berangka tahun 1072 Masehi.
Struktur Organisasi dan Sistem Pembagian Air
Sebagaimana diberitakan indonesia.go.id, para petani yang tergabung dalam organisasi subak disebut sebagai krama subak, yang terbagi ke dalam beberapa kelompok sesuai peran dan keaktifannya dalam mengelola sistem irigasi. Melalui musyawarah bersama, setiap anggota krama subak berhak mendapatkan pembagian air secara adil untuk mengairi sawah masing-masing.
Merujuk pada laman buleleng.bulelengkab.go.id, aliran air dalam sistem subak diatur melalui serangkaian saluran mulai dari bendungan utama, saluran besar, hingga saluran kecil yang menjangkau tiap petak sawah. Sistem yang demokratis dan egaliter inilah yang membuat para petani tetap produktif meski menghadapi berbagai tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Pengakuan Dunia dari UNESCO
Pada 29 Juni 2012, dalam sidang ke-36 Komite Warisan Dunia UNESCO di Saint Petersburg, Rusia, subak resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia dengan nama Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy. Seperti tertulis pada laman antaranews.com, Direktur dan Perwakilan UNESCO Kantor Asia Timur, Shahbaz Khan, menyebut subak sebagai contoh ideal relasi manusia dengan lingkungan, khususnya dalam pengelolaan air.