Sistem Filosofi dalam Grebeg Sawal

Grebeg Sawal depan Masjid Gedhe Kauman
Sumber :
  • https://ramadhan.antaranews.com/foto/3501642/grebeg-syawal-1444-h-keraton-yogyakarta

Budaya, VIVA BaliSistem Adat terukir dan mengiringi tradisi yang luhur. Sistem Adat melihat paham tentang kelestarian alam dan kearifan lokal. Adat istiadat menjawab juga mengenai identitas budaya. Posisi adat adalah menjadi pembelajaran budaya turun-temurun. Filosofi adat berfungsi untuk memberi kearifan lokal untuk menyelesaikan masalah yang dialami masyarakat pada peralihan zaman.

img_title Sistem Kayu Songga dalam Kebudayaan Mbojo

Peran filosofi adat dalam kenduri laut menjadi sistem adat dalam struktur masyarakat tradisional. Filosofi adat mengukir makna hasil profesi. Makna kearifan lokal juga mengandung unsur sejarah. Sejarah budaya ini menjelaskan tentang syukur atas panen, dan terciptanya konsep ketuhanan.

Konsep ketuhanan ini hadir dalam menyesuaikan peribadatan, doa-doa, dan syukur. Konsep ketuhanan bersama dengan unsur sejarah. Unsur sejarah ini ditemukan dalam Tradisi Grebeg Sawal, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan konsep ketuhanan lahir sebagai Manunggaling Kawula Gusti.

img_title Sistem Bahasa Halus di Provinsi Kalimantan Timur

Dijelaskan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2012) “Ibarat leburnya gula dan air, menyatunya api dan besi, yang di antara keduanya bisa dibedakan, tetapi tidak bisa lagi dipisahkan. Ketika besi telah menjadi merah karena dibakar api, besi dan api telah menyatu. Siapa menyentuh api, akan terkena besi dan siapa yang memegang besi akan tersentuh api”.

Sistem Filosofi Jawa dalam Tradisi Grebeg Sawal

img_title Tenun Gringsing, Kain Sakral Bali yang Hanya Ada di Tiga Tempat di Dunia

Aturan adat Jawa dalam beribadah dan menjalankan filosofi adat yang luhur tertuang dalam Grebeg Sawal. Tradisi ini dianalisis sangat kental dengan agama, adat, budaya, dan filosofi Manunggaling Kawula Gusti. Hukum Adat juga menjawab paham kehidupan yang memberi pelajaran hidup tentang introspeksi diri dan melestarikan tata krama yang lebih baik dan  indah. Diutarakan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (2021) “Grebeg Kraton Kasultanan Yogyakarta pertama kali diadakan oleh Sultan Hamengkubuwono I.

Pada upacara pertama Sultan mengeluarkan hajad dalem beruapa Gunungan lanag, Gunungan wadon, gunungan gepak, gunungan pawuhan, gunungan dharat, gunungan kutug/bromo ( pada tahun dal). Grebeg dalam satu tahun diadakan 3 ( tiga) kali; Grebeg posos /syawal/ bakdo diadakan tanggal 1 syawal ( Idul Fitri ) untuk menghormati bulan suci Rahadhan dan menghormati malam kemuliaan ( Lailatul Qadar)”.

Halaman Selanjutnya
img_title