Barong Brutuk, Tarian Sakral Berkostum Daun Pisang yang Hanya Ada di Desa Trunyan

Barong Brutuk di Desa Trunyan
Sumber :
  • https://disparda.baliprov.go.id/barong-brutuk/2020/05/

Budaya, VIVA Bali –Bali dikenal luas lewat berbagai jenis Barong, mulai dari Barong Ket yang gagah, Barong Landung yang berwujud sepasang raksasa, hingga Barong Bangkung yang diarak saat Galungan. Namun di antara ragam Barong tersebut, ada satu wujud yang jauh lebih langka dan nyaris tak dikenal wisatawan, yaitu Barong Brutuk, tarian sakral yang hanya bisa disaksikan di satu tempat di dunia, Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

img_title Sistem Kayu Songga dalam Kebudayaan Mbojo

Merujuk arsip resmi Pemerintah Kabupaten Bangli, Barong Brutuk merupakan tarian yang menggambarkan kehidupan para leluhur Desa Trunyan pada masa lampau. Tarian ini dipentaskan sebagai unen-unen atau abdi dari dua sosok yang disucikan warga Trunyan, yakni Ratu Sakti Pancering Jagat atau Bhatara Datonta, dan istrinya Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar. Di area Pura Pancering Jagat, berdiri pula arca Bhatara Datonta setinggi sekitar empat meter dengan wujud sederhana namun berkesan kuat, tangan kirinya menggantung longgar sementara tangan kanannya menekuk memegang sebilah kapak.

Dilaporkan situs resmi Pemerintah Kabupaten Bangli, kostum Barong Brutuk sangat jauh dari kesan mewah yang biasa melekat pada Barong lain di Bali. Topengnya dibuat dari batok kelapa dengan bentuk dan ekspresi yang berbeda-beda pada setiap penari, sementara busananya seluruhnya terbuat dari daun pisang kering atau disebut keraras. Kesederhanaan ini bukan tanpa alasan, melainkan cerminan rasa syukur masyarakat Trunyan atas hasil alam di sekitar mereka, mengingat kawasan desa memang dikelilingi banyak pohon pisang.

img_title Sistem Bahasa Halus di Provinsi Kalimantan Timur

Masih menurut arsip yang sama, keraras yang digunakan diambil dari tiga jenis pisang, yaitu pisang dangsaba, pisang ketip, dan pisang temaga, yang dikeringkan lalu dirajut menggunakan tali dari kelopak pisang. Setiap penari mengenakan hingga tiga lapis keraras yang diikat di pinggang maupun digantungkan di leher, bahkan pakaian dalamnya pun turut dibuat dari tali pohon pisang. Hiasan kepala berbahan janur hanya dikenakan oleh satu penari yang berperan sebagai Sang Raja, sosok yang melambangkan Ratu Sakti Pancering Jagat sendiri.

Tidak sembarang orang bisa menarikan Barong Brutuk. Menurut catatan Institut Seni Indonesia Denpasar, para penari harus berasal dari kalangan truna atau pemuda yang tergabung dalam seka teruna Desa Trunyan, dan wajib menjalani masa penyucian diri selama 42 hari sebelum pementasan digelar.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Tenun Gringsing, Kain Sakral Bali yang Hanya Ada di Tiga Tempat di Dunia