Mengenal Tradisi Perang Pandan Di Bali, Ritual Sakral Penuh Luka Tanpa Dendam

Tradisi Mekare-Kare
Sumber :
  • https://bali.antaranews.com/foto/152794/tradisi-makare-kare

Budaya, VIVA Bali –Bali tidak hanya dikenal lewat pantai dan pura megahnya, tetapi juga lewat ragam tradisi unik yang masih lestari hingga kini. Salah satunya adalah Perang Pandan, ritual sakral masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Berdasarkan laman bali.viva.co.id, tradisi yang juga dikenal dengan sebutan Mekare-kare ini digelar setiap tahun sebagai bagian dari rangkaian upacara keagamaan terbesar di desa tersebut, yakni Sasih Sembah.

img_title Sistem Kayu Songga dalam Kebudayaan Mbojo

Asal Usul dan Makna Filosofis

Desa Tenganan dikenal sebagai salah satu desa Bali Aga, yakni komunitas Bali kuno yang mempertahankan tradisi leluhur sebelum masuknya pengaruh Majapahit ke Pulau Dewata. Merujuk pada laman resmi Pemerintah Kabupaten Karangasem, masyarakat Tenganan meyakini Dewa Indra sebagai dewa perang sekaligus dewa tertinggi yang wajib dihormati melalui tradisi Perang Pandan.

img_title Sistem Bahasa Halus di Provinsi Kalimantan Timur

Secara filosofis, ritual ini juga dipercaya sebagai simbol kemenangan Dewa Indra saat mengalahkan Raja Maya Denawa, sosok penguasa lalim yang melarang masyarakat Bali menjalankan ritual keagamaan pada masa lampau. Selain menjadi persembahan kepada Dewa Indra, tradisi ini turut berfungsi sebagai bentuk latihan ketangkasan dan pertahanan bagi para pemuda desa.

Prosesi Ritual Mekare-kare

img_title Tenun Gringsing, Kain Sakral Bali yang Hanya Ada di Tiga Tempat di Dunia

Tradisi Perang Pandan digelar sekitar bulan Juni sesuai penanggalan khusus milik Desa Tenganan, berlangsung selama dua hari berturut-turut dan dimulai sekitar pukul 2 siang. Sebagaimana diberitakan bali.viva.co.id, sebelum pertarungan dimulai, para peserta menjalani ritual penyucian diri terlebih dahulu, lalu mengenakan pakaian adat berupa kamen, saput, dan ikat kepala udeng tanpa busana atas.

Dalam pertarungan, dua peserta saling berhadapan sambil memegang ikatan daun pandan berduri di satu tangan dan perisai rotan di tangan lainnya. Menurut penjelasan yang termuat di viva.co.id, tetua adat Desa Tenganan, I Ketut Sudiastika, menyebut ritual ini sebagai puncak dari rangkaian acara yang telah berlangsung sejak sebulan sebelumnya. “Ini puncak dari rangkaian acara yang digelar sejak dari bulan lalu,” ujarnya.

Luka Tanpa Dendam

Meski duri pandan kerap meninggalkan bekas luka dan goresan darah di tubuh peserta, tradisi ini sama sekali tidak memicu permusuhan. Disebutkan dalam laman viva.co.id, luka-luka tersebut justru dimaknai sebagai bentuk pengabdian yang tulus kepada Dewa Indra, bukan sebagai penderitaan yang perlu disesali.

Halaman Selanjutnya
img_title