Prof Sofyan Sjaf Raih Silver Winner Diktisaintek 2025, Begini Rahasianya Bikin Desa Jadi Super Pintar

Prof Sofyan Sjaf Bikin Desa Super Pintar, Raih Silver Diktisaintek
Sumber :
  • IPB University

Bogor, VIVA BaliProf Sofyan Sjaf raih Silver Winner Diktisaintek 2025 lewat Data Desa Presisi. Begini cara inovasi sosialnya membuat desa di Indonesia super pintar, akurat, dan mandiri!

img_title Negara Masih Pakai Peta Hutan Jadul, Pengamat Nilai Ini Akar Konflik Agraria Nusantara

Prof Sofyan Sjaf, Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB University sekaligus penggagas Data Desa Presisi (DDP), menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Silver Winner Anugerah Riset dan Pengembangan Diktisaintek 2025. 

Mengutip website resmi IPB University, penghargaan ini menobatkannya sebagai Ilmuwan Senior Terbaik Bidang Inovasi Sosial Humaniora, sekaligus mengukuhkan DDP sebagai inovasi yang membuat desa “super pintar”.

img_title 32 Persen Petani Tak Tercatat di e-RDKK, Bukti Pupuk Subsidi Banyak Bocor

“Sejujurnya, saya tidak menyangka. Tapi ilmuwan harus terus berkarya, dan DDP adalah buah kerja sejak 2006,” ujar Prof Sofyan Kamis, 1 Januari 2026.

Rahasia Prof Sofyan sederhana tapi revolusioner yaitu data yang dibuat bersama warga desa, dengan teknologi digital yang mudah digunakan, dikawal kampus tapi tetap dikelola mandiri oleh desa. 

img_title IPB University Temukan Masalah Pendataan Pupuk, Subsidi Bocor ke Mana-Mana

Model ini membalik paradigma lama yang top-down, di mana data sering tidak relevan dan tidak memberdayakan.

“Pendekatan bottom-up ini memastikan warga desa ikut menentukan datanya sendiri. Tujuannya, desa bisa mandiri mengelola data dan membuat keputusan pembangunan yang tepat,” jelas Prof Sofyan.

Sejak implementasi pertama, DDP telah menyentuh 16 provinsi, 34 kabupaten/kota, dan 543 desa, dengan lebih dari 10 ribu warga desa dan 900 akademisi terlibat. Target 2026? 1.239 desa siap pakai DDP.

Melalui DDP, desa bisa mengetahui secara presisi siapa yang miskin, tidak punya listrik atau jamban, akses pendidikan terbatas, hingga pola konsumsi pangan. 

Data ini menjadi basis perencanaan pembangunan yang akurat, tepat sasaran, dan akuntabel.

Prof Sofyan menekankan, keberhasilan DDP terletak pada keterlibatan aktif warga desa, bukan sekadar riset kampus. 

Sejak 2006, timnya turun langsung ke desa, membangun formulasi inovasi yang bisa diterima masyarakat, dan baru diimplementasikan secara masif pada 2020.

“Dengan data presisi, desa bisa mengatasi masalah besar seperti kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, dan ketidakadilan gender secara akurat. DDP membuktikan inovasi humaniora bisa berdampak nyata,” tambahnya.

Penghargaan Silver Winner Diktisaintek 2025 ini bukan sekadar prestasi pribadi, tapi juga simbol bahwa desa di Indonesia kini bisa menjadi super pintar, mengelola big data mereka sendiri, dan membuka akses pembangunan yang inklusif.

Halaman Selanjutnya
img_title