Menjaga Sayap Budaya Pacu Itiak Payakumbuh
- https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b2/DSC_4047_wikimedia2020_deni_dahniel_Pacu_Itik_Terbang.jpg
Budaya, VIVA Bali – Pacu Itiak, sebuah tradisi unik berupa perlombaan itik terbang, adalah salah satu warisan budaya yang sangat digemari masyarakat di Kota Payakumbuh, khususnya di Kelurahan Aur Kuning, Kecamatan Payakumbuh Selatan. Lebih dari sekadar ajang hiburan, tradisi ini memuat semacam pembelajaran nilai-nilai budaya yang luhur dan sangat penting untuk dilestarikan.
Jurnal berjudul "Tradisi Pacu Itiak dalam Melestarikan Nilai-Nilai Budaya di Payakumbuh" ditulis oleh Frea Purnama dan Nurman, yang merupakan peneliti dari Program Studi PPKN, Universitas Negeri Padang. Latar belakang keilmuan ini menunjukkan fokus mereka pada kajian nilai-nilai kebudayaan dan kewarganegaraan yang terkandung dalam tradisi lokal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya, kendala pelaksanaan, dan upaya pelestariannya. Informan penelitian mencakup pihak-pihak penting dalam tradisi, seperti niniak mamak, masyarakat, ketua Porti, Ketua galanggang, dan ketua pemuda di Aur Kuning.
Inti dari Pacu Itiak adalah perlombaan itik betina berusia 4 sampai 6 bulan yang dilepaskan di lintasan sepanjang 1600 meter untuk terbang menuju garis finis. Dalam prosesnya, tradisi ini membentuk nilai harmonis, nilai kekeluargaan, nilai musyawarah, dan nilai kompetisi atau persaingan. Nilai-nilai ini juga mencakup kejujuran, patriotisme, dan kerjasama sebagai nilai budaya yang penting untuk dipertahankan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sayangnya, implementasi nilai-nilai ini di lapangan menghadapi tantangan berat, bahkan penulis menyimpulkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Pacu Itiak sudah terlaksana tetapi belum optimal. Kendala utama timbul karena kurangnya landasan dalam pemahaman tradisi, yang memicu dua masalah serius.
Masalah pertama adalah terjadinya konflik antar peserta dengan panitia atau sesama peserta. Konflik ini terjadi karena adanya kecurangan, seperti peserta yang mendahului garis start atau menusuk ekor itik sebelum terbang agar itik bisa terbang kencang, yang kemudian memicu persaingan tidak sehat.
Masalah kedua adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam memaknai nilai-nilai budaya Pacu Itiak. Rendahnya kesadaran ini terlihat dari adanya taruhan dan konflik, yang berawal dari kenyataan bahwa pengunjung tidak hanya menikmati lomba sebagai hiburan tetapi juga menjadikannya arena judi dan taruhan.