Keragaman Tusukan Rasa dan Sejarah Nusantara dari Sate
- https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Pedagang_Sate_%22satay_seller%22.jpg
Budaya, VIVA Bali – Sate atau satay, lebih dari sekadar makanan kaki lima populer di Indonesia. Ialah warisan budaya kuliner kuno yang telah menjadi identitas nasional. Kuat menunjukkan kekayaan gastronomi bangsa yang melintasi sejarah dan budaya berbagai suku di kepulauan, menjadikannya aset pariwisata kuliner yang tak ternilai.
Penelitian komprehensif ini digawangi oleh Latifahtur Rahmah dan Novi I P Sari, keduanya merupakan Dosen Seni Kuliner dari Akademi Kuliner dan Patiseri OTTIMMO Internasional di Surabaya. Mereka bekerjasama dengan Arif N M Ansori yang memiliki afiliasi dengan Kumamoto University, menyajikan kajian berjudul Diversity of sate (satay) as Indonesian ancient food yang terbit pada Juli 2024.
Asal Usul dan Pertukaran Budaya
Kemunculan sate di Indonesia diperkirakan terjadi secara masif pada sekitar abad ke-19, seiring dengan munculnya dua teori utama mengenai etimologi namanya yang berasal dari luar. Beberapa sumber mengaitkan istilah sate berasal dari dialek Tiongkok Minnan yaitu sa tae bak yang berarti tiga potong daging. Namun ada juga pandangan yang menghubungkannya dengan kata Tamil, catai, yang memiliki arti daging.
Awalnya masyarakat lebih banyak memasak sate dengan cara direbus atau dibakar sederhana. Perubahan terjadi setelah pedagang Muslim dari Tamil dan Gujarat memperkenalkan konsep kebab panggang khas Timur Tengah ke Nusantara. Sejak saat itu, sate mulai dimasak dengan cara dibakar atau grilling dan pengaruh Arab terlihat dari pemilihan daging domba atau kambing.
Resep sate modern pertama kali dicatat dalam buku masakan historis berjudul Kokki Bitja pada tahun 1857, mengukuhkan posisinya sebagai makanan tradisional yang lestari. Evolusi resep terus berlanjut hingga dimasukkan dalam buku masakan nasional Mustika Rasa yang diterbitkan pada tahun 1967.
Peta Keragaman dan Bumbu Inti
Keragaman sate di Indonesia luar biasa luas, dengan variasi berdasarkan daerah asal, jenis daging, dan proses pembuatannya. Berdasarkan pemetaan dalam penelitian, keragaman terbanyak terkonsentrasi di Pulau Jawa yaitu 44 persen. Konsentrasi ini diikuti oleh Pulau Sumatra sebesar 21 persen yang juga memiliki variasi sate unik.