Mappalili Bugis, Tradisi Sambut Musim Tanam yang Kental Doa
- https://pariwisataindonesia.id/wp-content/uploads/2023/03/Pariwisata-Indonesia-Mappalili.jpg
Tradisi, VIVA Bali – Sebelum ladang mulai diolah dan bibit padi ditanam, masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan punya tradisi sakral: Mappalili. Tradisi ini bukan sekadar formalitas, melainkan ungkapan harapan dan doa agar musim tanam berjalan lancar, diwarnai ritual adat, perenungan, dan kebersamaan.
Kata Mappalili (atau Appalili dalam dialek Makassar) berasal dari kata palili, yang bermakna menjaga padi dari gangguan atau ancaman. Tradisi inilah yang menandai awal musim tanam bagi petani Bugis secara turun-temurun.
Asal-usul & Makna Tradisi
Mappalili telah menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat Bugis dalam menentukan waktu tanam. Dahulu, Bissu, tokoh spiritual adat, menentukan hari pelaksanaan ritual dan memimpin prosesi, yang seringkali dikombinasikan dengan kaidah adat dan agama.
Seiring waktu, peran pemerintah dan lembaga adat ikut ambil bagian dalam pelaksanaan Mappalili agar tetap relevan di zaman modern.
Rangkaian Ritual Utama
Upacara Mappalili biasa digelar selama beberapa hari, dengan tahapan sebagai berikut:
- Matteddu Arajang — ritual membangunkan benda pusaka seperti bajak sawah (arajang) yang diyakini bertuah, yang semula ada di rumah arajang adat.
- Arajang Ri’alu — prosesi mengarak arajang keliling kampung diiringi musik tradisional dan pemuka adat.
- Mappalesso Arajang — menempatkan arajang di ruang terbuka seperti pendopo, dihias dengan bulir padi dan payung adat.
- Mallekko Wae & Mapparewe Sumange — mengambil air dari sungai sebagai bahan penyucian dan memotivasi petani agar optimis menghadapi musim tanam.
- Majjori — puncak ritual: membajak sawah yang sudah disucikan sebagai simbol bahwa musim tanam dimulai.
- Siram-siraman air — warga bersama pemuka adat menyiram air sebagai bentuk suka cita sekaligus simbol berkah.
Jika petani menanam sebelum ritual dilakukan, dipercaya hasil panen bisa gagal atau tanaman menjadi rusak (puso).
Ritual Mappalili mengandung nilai-nilai kearifan lokal: syukur, gotong-royong, dan kesadaran religius. Dalam beberapa komunitas, mantra atau doa yang dilafalkan dalam ritual ini memuat unsur Islam seperti basmalah, ayat Al-Fatihah, shalawat menandakan sinkretisme budaya dan agama.
Selain itu, modernisasi membawa transformasi ritual: durasi upacara bisa lebih ringkas, dan beberapa alat atau ritual sekunder mungkin disesuaikan agar tetap relevan dengan era kekinian.