Garis Lurus, Penghubung Antar Dunia Tuhan, Manusia, Alam, dan Gaib
- https://sonobudoyo.jogjaprov.go.id/id/tulisan/read/sumbu-filosofi-yogyakarta-harmoni-alam--manusia--dan-sang-pencipta
Budaya, VIVA Bali –Kota Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota pelajar, tetapi juga kota yang dikenal dengan pusat budaya, tata kramanya yang kental, serta filosofi yang hidup dalam diri masyarakat.
Tidak hanya menjadi destinasi wisata, Kota Yogyakarta juga menjadi ruang bagi budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini tercermin dari cara masyarakatnya memaknai adat, seni, dan filosofi hidup sehari-hari. Budaya Yogyakarta sangat dipengaruhi oleh filosofi Jawa yang menjunjung tinggi keseimbangan, keselarasan, dan ketenangan batin.
Masyarakat lokal sangat memegang prinsip Jawa seperti nrimo ing pandum (menerima dengan ikhlas), tepa salira (tenggang rasa), dan unggah-ungguh (tata krama). Berbagai prinsip inilah yang mereka pegang sebagai pedoman untuk hidup berdampingan dan cara mereka untuk bersikap serta berinteraksi dengan sesama manusia, sehingga sangat tidak heran bahwa saat ini
Kota Yogyakarta menjadi pilihan destinasi sebagian besar masyarakat Indonesia tidak hanya karena faktor keindahan alam yang melimpah dan juga budaya yang unik untuk di pelajari, tetapi juga karena keramahan, kesantunan, dan sikap hormat masyarakat lokal membuat wisatawan menjadi betah dan selalu ingin datang kembali ke sini.
Di tengah era modernisasi, kebudayaan Yogyakarta tidak pernah sekalipun ditinggalkan, tetapi ikut beradaptasi. Kebudayaan berkolaborasi denga kreativitas anak muda menjadikan ruang budaya baru tanpa meninggalkan akar budaya, sehingga menjadikan Yogyakarta menjadi kota yang tetap berkarakter.
Salah satu filosofi yang paling penting, hidup, dan hingga saat ini dimengerti oleh semua generasi masyarakat lokal Yogyakarta adalah konsep garis imajiner yang membentang lurus dari Gunung Merapi, Keraton Yogykarta, hingga Pantai Parantritis. Hal ini, bukan kebetulan atau hanya sekedar penataan ruang, tetapi juga mengandung filosofi yang sangat dalam mengenai hubungan antara Tuhan yang dilambangkan oleh Gunung Merapi, manusia, alam, dan gaib.
Filosofi garis lurus ini dimaknai masyarakat sebagai lambang hidup seimbang antara lahir dan batin, manusia yang berada ditengah dianggap penghubung antara kekuatan spiritual dan kekuatan alam. Sehingga, Keraton tidak dianggap sebagai poros pemerintahan Kota Yogyakarta saja, tetapi juga sebagai sandaran serta pelindung harmoni kehidupan masyarakat.