Warisan Tradisi Mumi Papua yang Bertahan Hingga Kini
- https://pariwisataindonesia.id/budaya-dan-sejarah/papua-juga-punya-mumi/
Tradisi, VIVA Bali –Tradisi pemumian jenazah di Papua merupakan salah satu warisan budaya paling unik dan sakral di Indonesia. Meski sering kali dikaitkan dengan peradaban Mesir Kuno, masyarakat di Pegunungan Tengah Papua telah mempraktikkan teknik pengawetan jenazah ini selama ratusan tahun sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi para leluhur, panglima perang, dan kepala suku.
Jejak Sejarah dan Filosofi Mumi Papua
Berdasarkan catatan sejarah dan tradisi lisan, praktik mumifikasi di Papua tidak dilakukan kepada setiap orang yang meninggal. Tradisi ini dikhususkan bagi tokoh-tokoh penting yang dianggap berjasa besar bagi sukunya, seperti pemimpin adat atau pahlawan perang. Tujuan utama pemumian adalah untuk menjaga "kehadiran" sang tokoh agar tetap bisa memberikan perlindungan, keberuntungan, dan kekuatan bagi generasi penerusnya.
Salah satu lokasi paling terkenal yang masih menyimpan mumi adalah Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya. Di sini, mumi tidak disimpan dalam peti mati yang tertutup rapat, melainkan diletakkan di dalam rumah adat yang disebut Honai. Mumi ini dianggap sakral dan menjadi bukti kejayaan masa lalu suku tersebut.
Suku-Suku Pemilik Tradisi Mumi
Meskipun suku Dani di Lembah Baliem adalah yang paling populer di kalangan wisatawan, tradisi memumikan jenazah sebenarnya tersebar di beberapa suku lain di wilayah Pegunungan Papua. Setidaknya ada lima suku utama yang tercatat memiliki tradisi ini:
* Suku Dani (Hubula) di Lembah Baliem, Jayawijaya.
* Suku Mek di Pegunungan Bintang.
* Suku Moni di Intan Jaya.
* Suku Yali di Kurima, Yahukimo.
* Suku Mee di Dogiyai.
Setiap suku memiliki cara dan penamaan sendiri untuk mumi mereka. Misalnya, suku Dani menyebut proses pemumian ini dengan istilah Akonipuk. Diperkirakan terdapat beberapa mumi yang masih terawat hingga saat ini, termasuk Mumi Wim Motok Mabel di Desa Jiwika yang berusia lebih dari 370 tahun.
Teknik Pengasapan yang Unik
Berbeda dengan mumi Mesir yang menggunakan balsem atau rempah-rempah khusus, mumi di Papua diawetkan melalui proses pengasapan. Proses ini sangat panjang dan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan hitungan tahun hingga jenazah benar-benar mengering.