Budaya Melaksanakan Ibadat Meru Nubat, Ajaran Agama Malesung
- https://kanalmetro.com/2022/07/15/minta-laroma-tak-jalankan-ritual-bulan-purnama-bupati-minsel-dinilai-lakukan-pelanggaran-ham/
Budaya, VIVA Bali –Budaya menjalankan ibadat untuk mengucapkan syukur dan memohon ampun atas nikmat dan dosa adalah budaya yang memiliki kekuatan spiritual. Ibadah Bulan Purnama dalam ajaran Malesung dilaksanakan satu bulan satu kali saat bulan purnama tiba di langit. Heydemans, Timpal, dan Alva (2020: 54) menceritakan para pemeluk agama Malesung percaya kepada Empung Wailan Wangko sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya yang mana agama ini dipimpin oleh para Walian yang tersebar di setiap kampung atau ro'ong, terutama di Provinsi Sulawesi Utara dan sekitarnya, sehingga agama ini sudah ada sebelum dan sesudah negara Indonesia berdiri. Mereka (2020:54) berkata sayangnya, hingga kini, agama ini tidak disahkan sebagai salah satu agama resmi di Indonesia karena justru 6 agama 'impor' telah disahkan dan diakui sebagai agama resmi di Indonesia. Pelaksanaan Ibadah Bulan Purnama bagi pemeluk Agama Malesung ini dilaksanakan dengan menyesuaikan Waktu Indonesia Tengah.
Ibadat Malam Meru Nubat Digelar Satu Bulan Sekali
Budaya memasuki Ibadah Bulan Purnama dalam ajaran Malesung dimulai pada peralihan malam ke dini hari. Heydemans, Timpal, dan Alva (2020: 54) menulis Ibadat Bulan Purnama dalam Ajaran Malesung ini disebut Meru Nubat. Mereka (2020: 54) menguraikan cara penyembahan bisa dalam bentuk ritus atau praktik hidup sehari-hari di setiap kampung atau ro’ong-ro’ong di Provinsi Sulawesi Utara dan sekitarnya, dengan ritus atau tata upacara hanya dilakukan satu bulan satu kali saat bulan purnama bercahaya di langit. Mereka (2020: 54) menuliskan tetapi dalam ritus atau tata pelaksanaan Ibadat Meru Nubat dalam agama Malesung ada sesajin/umper, ada yang dikhususkan kepada Empung Wailan Wangko sebagai pencipta alam semesta, dan juga leluhur sehingga diberikan peringatan dan penghormatan lewat siripinal di atas meja. Mereka (2020: 54) mengutarakan dalam tata pelaksanaan ritus Ibadah Meru Nubat ini ada juga tahap yang mana pemimpin melakukan pengobatan, makan bersama, dan praktik melayani karena apa yang paling penting diajarkan kepada penganutnya untuk mengakui keagungan Empung Wailan Wangko, menghormati para leluhur, membangun erat kebersamaan, saling memberi pelayanan, dan menolong penyembuhan para pasien. Mereka (2020: 54) menjelaskan tentang jenis sesajen yang mana jenis sesajen yang digunakan saat pelaksanaan Ibadat bulan purnama dalam ajaran Malesung yaitu, Umper yang terdiri Nasi Kaboro, sedikit daging ayam, kaboro, pinang, kapur, siri. Mereka (2020: 54) menjelaskan dalam ajaran Malesung, siapa yang memimpin ritus adalah disebut Pa’ki’i-ki’iteng atau Ma’wali-wali atau Walian. Mereka (2020: 54) menyimpulkan dalam ajaran Malesung, siapa yang ikut ritus disebut Paluimpung atau Se maki’it ing kanaramang.