Belajar Moral Khas Legenda Gunung Bromo

Bromo, keindahan nyata penuh legenda
Sumber :
  • https://www.pexels.com/id-id/foto/foto-orang-menunggang-kuda-2291648/

Budaya, VIVA BaliLegenda Gunung Bromo, sebuah sastra lisan atau folklor yang dimiliki oleh masyarakat Tengger di Jawa Timur, lebih dari sekadar cerita rakyat biasa. Tradisi ini berfungsi penting sebagai media penyampai nilai-nilai sosial, sarana penyebaran ajaran agama, dan representasi dari harapan masyarakat.

img_title Sistem Budaya dalam Wayang Palembang

Kedalaman pesan moral dalam kisah ini dibahas tuntas oleh Sudarwati dan Anik Cahyaning R., dosen dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dalam jurnal mereka berjudul “Nilai-Nilai Moral Dalam Legenda Gunung Bromo”.

Penelitian yang menggunakan pendekatan moral-filosofis ini menetapkan bahwa tokoh-tokoh dalam cerita memegang posisi krusial sebagai penyampai amanat kepada pembaca atau pendengar.

img_title Barong Brutuk, Tarian Sakral Berkostum Daun Pisang yang Hanya Ada di Desa Trunyan

Menurut penulis, "Karena tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai penyampai pesan, amanat, moral atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca," maka analisis perwatakan menjadi kunci utama.

Tokoh protagonis utama dalam legenda ini adalah pasangan Rara Anteng dan Joko Seger, serta anak bungsu mereka, Kusuma, sementara Bajak ditetapkan sebagai tokoh antagonis yang jahat.

img_title Misteri Lawang Sewu, Gedung Seribu Pintu Penuh Cerita Mistis

Salah satu nilai moral pertama yang ditekankan adalah cinta sejati, yang terwujud dalam kisah kasih Rara Anteng dan Joko Seger. Kecantikan Rara Anteng menarik banyak pangeran dan bahkan Bajak, sang raksasa sakti, namun ia menolak semuanya karena hatinya hanya untuk Joko Seger. Dalam jurnal dikutip, "Namun semua lamaran tersebut ia tolak karena ia jatuh hati pada Joko Seger," yang membuktikan kesetiaan dan ketulusan cinta Rara Anteng.

Nilai kedua berpusat pada kepemimpinan, di mana Joko Seger dan Rara Anteng digambarkan sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana dan juga religius. Mereka memimpin kawasan Tengger dengan damai dan tenteram, dihormati oleh rakyat, dan bahkan gelar mereka Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger berarti "Penguasa Tengger yang Budiman".

Selain itu, mereka merupakan pemimpin yang mau mendengar suara rakyatnya, terbukti ketika mereka mengikuti saran masyarakat untuk bersemedi di Gunung Bromo agar dikaruniai keturunan.

Nilai moral berikutnya adalah orang tua yang menyayangi dan mencintai anak-anaknya, yang terlihat dari kegelisahan Joko Seger dan Rara Anteng untuk menepati janji pengorbanan. Meskipun telah dikaruniai 25 anak, naluri orang tua membuat mereka ingkar janji, menunjukkan betapa besarnya kasih sayang mereka terhadap Kusuma, anak bungsu mereka.

Halaman Selanjutnya
img_title