Wayang Kardus Taring Padi di Panggung Dunia
- https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Bercerita_dengan_Wayang.jpg
Budaya, VIVA Bali – Tahun 2022 menjadi momen puncak bagi kolektif seni asal Yogyakarta, Taring Padi, saat mereka berpartisipasi dalam pameran seni paling bergengsi, Documenta Fifteen (D15) di Kassel, Jerman.
Bersama kurator asal Indonesia, ruangrupa, Taring Padi membawa semangat lumbung dan seni rakyat ke kancah global yang kemudian menarik perhatian serius dari kalangan akademisi. Kontribusi mereka tidak hanya dilihat sebagai perayaan, tetapi juga sebagai studi kasus praktik "Artivism" yang mendalam dan signifikan.
Salah satu kajian mendalam tersebut tertuang dalam artikel "The Artivism (Art Activism) of Taring Padi at Documenta Fifteen 2022 through The Cardboard Puppet Workshop," yang diterbitkan dalam Journal Of Urban Society's Arts.
Penulisnya Ladija Triana Dewi, seorang akademisi yang menempuh Magister Tata Kelola Seni, Pascasarjana ISI Yogyakarta, menunjukkan latar belakang yang kuat dalam manajemen dan praktik seni kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode observasi partisipatoris berbasis praktik, yang memberikan legitimasi ilmiah atas klaim-klaim Taring Padi.
Taring Padi sendiri lahir pada 1998 di tengah gejolak Reformasi, menjadikan praktik seni mereka tidak terlepas dari edukasi politik dan gerakan anti-militerisme. Mereka melihat seni sebagai alat untuk mengorganisasi, mendidik, dan mengagitasi, serta berpegang teguh pada prinsip solidaritas kolektif.
Konsep "Artivism" mereka adalah jawaban atas kebuntuan komunikasi sosial dan politik, mengedepankan keterlibatan langsung dengan masyarakat. Dari praktik kerja bersama ini lahirlah berbagai media khas, di antaranya adalah Wayang Kardus, yang kini menjadi salah satu ikon kolektif yang paling mudah dikenali.
Media ini dipilih karena sifatnya yang pragmatis, murah, ringan, dan dapat dibuat dari bahan daur ulang, sehingga sangat ideal untuk mobilisasi massa. Wayang kardus adalah dekonstruksi atas seni adiluhung (Jawa) menjadi seni akar rumput yang tetap mempertahankan fungsi komunikatifnya.
Jurnal tersebut secara eksplisit mengakui pentingnya karya ini, menyatakan bahwa nilai utama wayang kardus terletak pada praktik partisipatoris dan presentasi masifnya, yang mampu memicu dampak besar di ekosistem seni dunia. Kemampuan adaptasi dan replikasi ini menjadikannya model yang menarik bagi studi seni kontemporer.