Pusaka Bahari Rembang di Pesisir Utara Jawa
- https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/ca/-HK_CityHall_Seaview_51217_5.png
Tradisi, VIVA Bali –Rembang, sebuah bandar tua di pesisir utara Pulau Jawa, memiliki sejarah maritim yang dinamis dan berakar kuat dalam kebudayaan Nusantara. Sejarah maritim, yang mencakup interaksi manusia dan laut, pelayaran, pembuatan perahu, hingga kehidupan pesisir, adalah tulang punggung yang seharusnya menopang penulisan sejarah bangsa Indonesia.
Penelitian berjudul "Perahu Tradisional Dalam Dinamika Sejarah Maritim Rembang Setelah Abad Ke-10", yang ditulis oleh R. Ahmad Ginanjar Purnawibawa dari Universitas Pendidikan Ganesha mengisi kekosongan pengetahuan mengenai tradisi perahu tradisional di Rembang setelah periode klasik, yang selama ini kurang dieksplorasi akibat terbatasnya sumber data.
Bukti Otentik dari Masa Klasik
Kisah maritim Rembang telah didukung oleh temuan arkeologi yang penting, seperti Perahu Kuno Punjulharjo dan muatannya. Perahu yang ditemukan pada tahun 2008 ini berasal dari pertanggalan 660-780 M dan merupakan bukti artefaktual yang menguatkan hadirnya perahu di Rembang sejak dahulu. Temuan ini memberikan data penting mengenai konstruksi perahu, jenis kayu, dan muatan yang ditemukan.
Perahu Punjulharjo dirakit dengan teknik khas Nusantara yang disebut tambuku terikat (lashed and lug technique). Ia mengandalkan pasak kayu untuk menyatukan papan dan diperkuat dengan ikatan gading pada tambuku menggunakan ijuk. Penemuan perahu ini, secara jelas menegaskan signifikansi Pesisir Utara Jawa dalam sejarah maritim nasional.
Secara historis, Rembang, yang dahulu bagian dari Kerajaan Lasem, merupakan bandar dagang yang sangat ramai karena lokasinya yang strategis. Rembang semakin maju setelah menjadi wilayah bawahan (vassal) Majapahit pada abad ke-14. Sumber sejarah mencatat bahwa perahu-perahu Majapahit dibangun di Caruban, dekat pelabuhan Kairingan, dan memiliki ukuran sangat besar, yaitu antara 70 sampai 90 meter panjangnya.
Laporan Portugis pada abad ke-16 bahkan menyebutkan ketangguhan perahu Jung, di mana meriam Portugis tidak sanggup menembus lambung Jung dalam pertempuran. Kekuatan lambung Jung ini menyebabkan pertempuran berlangsung cukup lama dan baru berakhir ketika kapal Portugis berhasil merusak kemudi perahu Jung tersebut.
Transformasi di Bawah Bayang-bayang Kolonial
Setelah VOC menancapkan pengaruhnya di Rembang pada abad 17& 18, terjadi perubahan signifikan pada jenis perahu yang digunakan. Bengkel-bengkel kapal di Dasun (Lasem), yang dikelola oleh peranakan Cina dan perusahaan Eropa, mulai merambah gaya Eropa. Meskipun, perahu tradisional seperti Mayang dan Pencalang tetap menjadi favorit para pelaut bumiputera dan Eropa.