Menyingkap Kelenturan Teks Sakral Prang Sabi Aceh

Prang Sabi, melawan ala Aceh
Sumber :
  • https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Birmingham_Quran_manuscript_full.jpg

Budaya, VIVA Bali – Dalam memori kolektif masyarakat Aceh, istilah Prang Sabi tidak sekadar merujuk pada "perang suci" melawan penjajah, namun lebih dalam, ia adalah nyala api perlawanan yang diwariskan melalui bait-bait sastra. Medium utamanya adalah teks Hikayat Prang Sabi (HPS), sebuah karya epik yang selama berabad-abad efektif mengobarkan semangat jihad dan perjuangan.

img_title Sistem Adat Negeri Haruku dalam Tradisi Sasi Lompa

Kajian mendalam mengenai fenomena ini telah diurai oleh Syukri Rizki, seorang peneliti yang berafiliasi dengan program Southeast Asian Studies, Goethe Universität Frankfurt. Ia menjadikannya tema utama dalam artikel berjudul "Flexibilitas Bait-Bait Prang Sabi: Persepsi Masyarakat Aceh Mengenai Perang Suci Yang Senantiasa Berubah".

Penelitian mengacu pada kerangka konseptual "konsep fleksibel" yang diusulkan oleh Muhammad Haji Salleh (2018), mengulas variasi pemaknaan perang suci dari abad ke-19 hingga era modern. Fokusnya mencakup tiga periode genting yakni masa kolonial Belanda, era pemberontakan Darul Islam (DI) di Aceh, dan perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

img_title Sistem Adat Melayu Rokan Hilir dalam Tradisi Menyemah Laut

Sanjak

Lalu, apa yang membuat teks epik ini begitu tangguh dan adaptif melintasi berbagai konflik dan rezim? Kunci utama dari kelenturan teks Prang Sabi ternyata terletak pada sistem penulisan tradisional Aceh yang dikenal sebagai sistem sanjak. Sistem penulisan ini, yang umum digunakan dalam komposisi hikayat, memberikan ruang yang luas bagi improvisasi dan penyesuaian.

img_title Sistem Motif dalam Batik Jambi

Sistem sanjak memungkinkan para penulis, penyair, dan penyalin untuk menyesuaikan bait-bait teks agar sesuai dengan kebutuhan dan konteks di mana teks tersebut akan diucapkan atau ditulis ulang. Syukri Rizki menegaskan, "Temuan menunjukkan bahwa konsep fleksibel dalam teks prang sabi bertumpu pada sistem sanjak yang digunakan dalam komposisi hikayat Aceh."

Inti ajaran yang dipertahankan adalah perjuangan melawan musuh yang disebut kafir (kaphé) yang berbahaya, sebuah leitmotif yang tidak pernah padam. Namun, identitas "kafir" ini terus bergerak secara dinamis seiring waktu. Pada awalnya musuh tersebut jelas merujuk kepada Pemerintah Kolonial Belanda yang datang pada tahun 1873.

Setelah masa kemerdekaan Indonesia, penunjukan musuh kemudian bergeser, mengikuti arah politik lokal dan nasional. Dalam konteks pemberontakan DI yang dimulai pada tahun 1951, dan perjuangan GAM pada tahun 1976, musuh utama kini ditujukan kepada Pemerintah Indonesia, meskipun dengan narasi dan tujuan perjuangan yang berbeda-beda.

Halaman Selanjutnya
img_title