Jagad Lelembut, Mekanisme Pertahanan Budaya Jawa
- https://commons.wikimedia.org/wiki/File:CAOS_DAHAR.jpg
Budaya, VIVA Bali –Siapa yang tak kenal dengan kisah-kisah mistis di Tanah Jawa? Mulai dari Nyi Roro Kidul yang berkuasa di laut selatan hingga sosok-sosok penunggu pohon besar, cerita tentang dunia gaib atau yang akrab disebut Jagad Lelembut ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi masyarakat Jawa.
Studi yang sangat menarik diterbitkan dalam Javanologi dengan judul “Jagad Lelembut; A Javanese Belief System That is Constructed Through the Use of Folklore and Myth on a Supernatural Worldview”. Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi Suroyo, Derinta Entas, dan Fatmahwati Adnan, yang berafiliasi dengan berbagai universitas dan lembaga riset di Indonesia hingga Italia.
Para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan fenomenologis, fokus pada penggalian pengalaman subyektif dari delapan informan kunci di kawasan Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Melalui metodologi ini, mereka menemukan bahwa mitos lelembut memiliki fungsi yang sangat logis, yakni sebagai alat rasionalisasi kolektif masyarakat terhadap fenomena yang sulit dijelaskan.
Sebagai contoh, studi ini memaparkan bagaimana entitas supernatural seperti Banaspati dikaitkan secara tragis dengan fenomena bunuh diri yang dikenal sebagai Pulung Gantung di kawasan Gunung Kidul.
Kemudian ada entitas Jombor di Magelang yang secara lokal dipercaya memiliki koneksi dengan praktik ilmu hitam dan masalah-masalah sosial di tingkat keluarga. Ini menunjukkan bahwa alih-alih mencari penjelasan saintifik, masyarakat justru menggunakan narasi lelembut sebagai lensa budaya untuk memahami bencana dan kesulitan hidup mereka.
Dalam esensinya, studi ini menegaskan bahwa sistem kepercayaan ini bukanlah kebetulan, melainkan sebuah konstruksi sosial yang telah tertata. Menurut para penulis, keyakinan supernatural ini secara efektif berfungsi sebagai sistem etika yang mengikat masyarakat, atau yang bisa kita sebut sebagai "satpam sosial".
Mereka menjelaskan, "Keyakinan supernatural yang diabadikan melalui folklor dan mitos ini menyediakan sebuah kerangka kerja mendasar bagi masyarakat Jawa untuk merasionalisasi, menjaga ketertiban, dan menguatkan etika komunitas yang sudah terangkum dalam prinsip pamali."
Konsep pamali (tabu atau pantangan) diperkuat oleh narasi tentang lelembut yang akan menghukum siapa pun yang melanggar norma sosial, merusak alam, atau tidak menghormati tempat keramat.