Sembilan Oktaf Beluk, Seni Vokal Agraris Sunda
- https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Beluk_performance.png
Tradisi, VIVA Bali –Di jantung Kabupaten Tasikmalaya, tersimpan satu warisan budaya yang suaranya mampu membelah malam, sebuah seni vokal yang dalam literatur ilmiah disebut mencapai 7 hingga 9 oktaf.
Kesenian langka tersebut bernama Beluk, sebuah tradisi a cappella Sunda yang keunikannya berbanding lurus dengan tantangan pelestariannya. Ia adalah bukti kearifan lokal masyarakat agraris dalam menciptakan komunikasi dan hiburan berfrekuensi tinggi.
Kajian mendalam tentang eksistensi seni yang luar biasa ini dituangkan oleh Rizkia Fahira, Denden Setiadji, dan Budi Dharma, peneliti dari Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, dalam sebuah jurnal.
Laporan akademis mereka berjudul “Kesenian Beluk Kampung Cirangkong, Desa Cikeusal, Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya: Bentuk dan Struktur Pertunjukan Grup Candralijaya”, mengupas tuntas anatomis pertunjukan kelompok pimpinan Bapak H. Ipin Saripin tersebut. Karya ini menjadi jembatan antara kekayaan tradisi buhun dengan analisis ilmiah yang terstruktur.
Secara filosofis dan sosiologis, Beluk terlahir dari kondisi lingkungan di mana masyarakat Sunda mayoritas berprofesi peladang atau petani. Jarak antara ladang yang berjauhan menuntut adanya media komunikasi yang efektif, yaitu suara yang harus meluk (melengking) dan panjang agar dapat terdengar jelas. Secara fungsional, Beluk adalah solusi ala petani sebelum era telepon genggam.
Namun, seiring putaran zaman dan pergeseran sosial, fungsi Beluk beralih menjadi media hiburan dan pertunjukan yang memeriahkan berbagai hajatan lembur. Kesenian ini tidak berdiri sendiri, ia terikat erat dengan Sastra Wawacan.
Satra Wawacan merupakan hikayat yang berbentuk puisi terikat Pupuh yang naskahnya ditulis menggunakan Aksara Arab Pegon berbahasa Sunda. Membawakan Beluk, dengan demikian, adalah sebuah tindakan melestarikan tiga unsur budaya sekaligus. Ada unsur vokal, sastra, dan aksara tradisional.
Pertunjukan Beluk yang biasanya dimulai setelah Isya hingga menjelang pagi, bukanlah pertunjukan biasa, melainkan ritual dengan struktur tiga bagian yang terwariskan. Bagian Pembuka selalu diawali dengan ritual doa kepada para karuhun (leluhur), seperti Eyang Candrali, yang bertujuan meminta restu dan kelancaran dengan pembakaran kemenyan. Kemudian di Bagian Isi, perpaduan seni vokal dan sastra terjadi melalui peran para pemain.