Hantu-Hantu Penuh Makna dalam Pawai Desa Nibung
- https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/8b/Dashiye_image_is_burned_during_Ghost_Festival_in_Bangka_Island_%282022%29.jpg
Tradisi, VIVA Bali –Di tengah kemajuan modern, beberapa komunitas masih teguh memegang tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Salah satunya adalah masyarakat Desa Nibung, Kecamatan Puding Besar, Kabupaten Bangka, yang kaya akan tradisi. Di antara tradisi lokal yang mereka miliki, yang paling mencolok dan berbeda adalah Tradisi Pawai Hantu.
Meskipun namanya kental dengan unsur mistis, esensi dari tradisi unik ini justru tidak menyimpang dari kaidah agama. Pawai ini merupakan bentuk kearifan lokal yang sarat akan nilai-nilai sejarah dan keimanan.
Tradisi ini diangkat menjadi fokus penelitian oleh Siti Ropiah, Aimie Sulaiman, dan Putra Pratama Saputra dari Universitas Bangka Belitung dalam artikel ilmiah mereka yang berjudul "Makna Simbolik Dalam Tradisi Pawai Hantu Di Desa Nibung Kecamatan Puding Besar Kabupaten Bangka".
Pawai Hantu ini hadir setiap Lebaran kedua Idul Adha. Pawai diberi tema "mengenang kisah tempo dulu". Tujuannya untuk menghormati jasa Atuk Junjung, seorang tokoh yang berhasil membawa dan menyebarkan ajaran Agama Islam di Desa Nibung. Sebelum kedatangannya, masyarakat setempat sempat menyembah hantu selama kurang lebih lima tahun, yang dianggap selalu membawa kesialan.
Setelah masyarakat memeluk Islam, hantu-hantu yang dulunya dipuja menjadi marah karena tidak lagi disembah. Bahkan, kemarahan tersebut berujung pada perkelahian dengan Atuk Junjung hingga beliau wafat. Oleh sebab itu, tradisi ini menjadi media bagi masyarakat untuk menghormati Atuk Junjung dan memastikan generasi muda teringat sejarah penting tersebut.
Inti dari makna tradisi ini terletak pada kostum dan simbol-simbol 'hantu' yang diarak, karena masyarakat disebut sebagai makhluk yang memberikan makna dalam simbol yang mereka ciptakan. Simbol-simbol tersebut mencakup Hantu Bukit (berwarna hitam) dan Hantu Rimbak (berwarna hijau), yang kostumnya dibuat dari hasil alam seperti ijuk batang kabung dan daun keterek ayam.
Hantu Bukit, kostumnya terbuat dari ranting batang ijuk kering berwarna hitam, memiliki makna ganda bagi masyarakat. Bukit, yang berarti dataran tinggi, dimaknai sebagai tingginya iman manusia kepada Allah. Sedangkan warna hitam pada hantu tersebut melambangkan masa lalu yang kelam, sebagai penanda bahwa iman yang baru menjauhkan marabahaya.