Gunung Kawi dan Kontrak Gaib dalam Kacamata Antropologi
- https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4a/1_gunung_kawi_temple.jpg
Budaya, VIVA Bali –Bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya Malang, nama Gunung Kawi tak asing lagi dengan konotasi mistisnya, yang terkenal sebagai pusat praktik pesugihan untuk mencari kekayaan secara instan. Namun, di balik stigma ilmu hitam yang melekat, fenomena budaya ini sesungguhnya adalah sebuah cerminan kompleksitas batin manusia yang menarik untuk dikaji secara ilmiah.
Penelitian dilakukan oleh Qurrota A'yuni, seorang akademisi dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya. Hasil risetnya ini dipublikasikan dengan judul “Eksistensi dan Motif Mistisisme dalam Cerita Rakyat Mitos Gunung Kawi: Kajian Mistisisme Niels Mulder”.
Tiga Wajah Eksistensi Mistisisme
Menurut Niels Mulder, eksistensi mistisisme adalah bentuk keberadaan magis yang mengilhami inti batin manusia, di mana kaum mistikus berupaya menyingkirkan keberadaan luar untuk menyatu kembali dengan jati diri.
Dalam Mitos Gunung Kawi, peneliti menemukan tiga bentuk eksistensi yang membentuk fenomena spiritual ini, yaitu material, spiritual, dan moral. Ketiga eksistensi ini merefleksikan bagaimana kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal gaib terwujud dalam kehidupan nyata.
Eksistensi material berfokus pada benda-benda yang dianggap sakral sebagai sarana mewujudkan proses kebatinan manusia dengan hal gaib, seringkali untuk keuntungan pribadi. Di Gunung Kawi, hal ini tampak jelas pada makam Mbah Djoego yang disalahgunakan sebagian orang sebagai tempat meminta pesugihan.
Objek material paling legendaris adalah Pohon Dewandaru atau Pohon Kesabaran, di mana ranting, buah, atau daunnya dipercaya menjadi jimat yang mendatangkan kekayaan bagi yang berhasil mendapatkannya.
Aspek spiritualitas dalam mitos ini terlihat pada ritual-ritual yang dilakukan peziarah untuk mendapatkan pesugihan. Ritual ini mencakup kewajiban untuk melakukan Tapa Brata selama tiga hari di bawah pohon keramat, yang harus didahului dengan ritual mandi suci dipimpin oleh juru kunci.
Bagian paling mengerikan adalah ketika pelaku harus menyetujui "kontrak mati" atau "kontrak gaib" dengan penguasa gaib Gunung Kawi, sebagai bentuk keyakinan dan penghormatan terhadap makhluk tak kasat mata di sana.
Eksistensi moral adalah sisi yang menjaga keselarasan dengan kewajiban moral di tengah praktik mistis, mencerminkan adanya hierarki dan tatanan yang harus dihormati. Hal ini tampak pada kisah karomah Mbah Djoego, di mana beliau berhasil mengobati warga desa yang terkena wabah penyakit menular dengan ramuan jamu dan doa.