Prasasti Blanjong Warisan Sejarah Tertua Pulau Bali

Prasasti Blanjong Sejarah Awal Bali
Sumber :
  • https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Blanjong_temple_pillar-1.jpg

Budaya, VIVA Bali –Di tengah kawasan Pantai Sanur yang tenang, berdiri sebuah peninggalan bersejarah bernama Prasasti Blanjong atau dikenal juga sebagai Belanjong. Prasasti ini menjadi catatan tertulis tertua tentang Pulau Bali, sekaligus bukti keberadaan pemerintahan awal di tanah ini. Di dalamnya tercantum kata Walidwipa, sebutan kuno untuk Pulau Bali, serta penanda waktu bertarikh 835 caka atau 913 Masehi. Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Sri Kesari Warmadewa, sosok penguasa yang membuka lembaran pertama sejarah kerajaan di Bali.

img_title Sistem Adat Negeri Haruku dalam Tradisi Sasi Lompa

Sosok di balik pembuatan prasasti ini adalah Sri Kesari Warmadewa pendiri Wangsa Warmadewa yang pernah berkuasa di Pulau Bali. Nama beliau bermakna Yang Mulia Pelindung Kerajaan Singha dan dikenal juga dengan sebutan Dalem Selonding. Sri Kesari berasal dari Sriwijaya di Sumatra dan datang ke Bali pada akhir abad ke 9 hingga awal abad ke 10. Pada masa pemerintahannya ia berhasil menaklukkan wilayah Gurun yang kini dikenal sebagai Nusa Penida serta Swal di kawasan Pantai Ketewel. Kemenangan besar inilah yang kemudian diabadikan dalam Prasasti Blanjong sebuah tugu kemenangan yang terbuat dari batu padas setinggi sekitar 177 sentimeter dengan garis tengah 62 sentimeter yang berdiri kokoh sebagai simbol kejayaan masa lampau.

Prasasti Blanjong kini tersimpan di kawasan Pura Blanjong, Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Provinsi Bali. Prasasti ini memiliki dua sisi yang menjadikannya sangat unik karena memuat dua jenis huruf dan bahasa. Pada sisi barat laut terdapat enam baris tulisan menggunakan aksara Pre Nagari dari India Utara dengan bahasa Bali Kuno, sedangkan pada sisi tenggara terdapat tiga belas baris tulisan dengan huruf Bali Kuno atau Kawi menggunakan bahasa Sanskerta.

img_title Sistem Adat Melayu Rokan Hilir dalam Tradisi Menyemah Laut

Keberadaan dua sistem penulisan ini tergolong langka, sebab sebagian besar prasasti kuno umumnya hanya menggunakan satu bahasa dan satu aksara. Penggunaan dua bahasa dan dua huruf pada Prasasti Blanjong menunjukkan tingkat kemahiran serta wawasan pengetahuan yang tinggi dari masyarakat pada masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa pada abad ke-10 Masehi. Keistimewaan lainnya terletak pada sistem penulisan silang, di mana bahasa Sanskerta justru ditulis dengan huruf Bali Kuno, sedangkan bahasa Bali Kuno ditulis menggunakan huruf Pre Nagari.

Halaman Selanjutnya
img_title