Mengenal Keunikan Tradisi Pemakaman Terbuka di Desa Trunyan

Tengkorak manusia di pemakaman terbuka Desa Trunyan
Sumber :
  • http://balilostadventure.com/

Bau wangi yang dikeluarkan oleh pohon Taru Menyan menjadi faktor alami yang mendukung tradisi pemakaman terbuka ini bisa tetap dijalankan selama ratusan tahun. Ini juga yang membedakan Trunyan dari desa-desa adat Bali lainnya.

Akses Menuju Desa Trunyan

Safety Riding Masuk Sekolah! SMAN 1 Gerung Jadi Pelopor Tertib Lalu Lintas di Lombok Barat

Untuk mencapai Desa Trunyan, pengunjung harus menuju ke Desa Kedisan, yang berada di tepi Danau Batur. Dari sini, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan perahu motor selama kurang lebih 30–45 menit menyusuri danau menuju lokasi pemakaman. Akses jalan darat ke Trunyan sangat terbatas karena kontur geografisnya yang curam dan berbukit-bukit.

Karena keunikannya, banyak wisatawan domestik maupun mancanegara tertarik mengunjungi desa ini. Namun, pengunjung diharapkan menjaga sikap sopan dan tidak mengganggu ritual atau tempat suci, karena lokasi ini masih aktif digunakan oleh warga sebagai pemakaman tradisional.

Tradisi yang Terus Dijaga di Tengah Modernisasi

Dari Subak ke Tri Hita Karana Filosofi Bali yang Diakui UNESCO

Meskipun arus modernisasi dan pariwisata terus masuk ke Bali, Desa Trunyan tetap menjaga tradisinya dengan kuat. Pemerintah daerah telah menjadikan desa ini sebagai bagian dari destinasi wisata budaya dan spiritual, namun tetap diimbangi dengan edukasi kepada pengunjung agar tidak sekadar datang karena rasa penasaran.

Keunikan Trunyan bukan hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga menjadi bukti bahwa kearifan lokal bisa bertahan dan tetap hidup berdampingan dengan alam. Tradisi ini juga menunjukkan betapa beragam dan kayanya budaya Indonesia yang belum tentu dimiliki oleh bangsa lain.

Tips Mengatasi Stres Mata Akibat Laptop dan Hp