Mengulik Sisi Psikologi dari Keserakahan
- https://www.freepik.com/free-photo/investment-shopping-finance-concept-greedy-funny-blond-guy-hugging-money-looking-camera-showing-intense-desire
Tak hanya perilaku, keserakahan juga memengaruhi emosi. Saat kalah uang, individu yang rakus bereaksi jauh lebih negatif. Sebaliknya, saat menang, mereka merasakan euforia yang lebih intens dibanding orang lain. Jadi, hidup mereka ibaratkan ombak banyu, penuh kegembiraan saat mendapat lebih, tapi juga mudah frustrasi saat kehilangan.
Greed dan Sisi Gelap Kepribadian
Yang mengejutkan, sifat rakus punya hubungan erat dengan meanness, salah satu dimensi psikopati. Artinya, orang yang rakus cenderung lebih dingin, kurang empati, dan tak segan mengorbankan kepentingan orang lain demi keuntungan sendiri. Tak heran bila keserakahan sering dianggap biang kerok krisis finansial, korupsi, atau skandal bisnis.
Apakah Selalu Buruk?
Meski sering dipandang negatif, keserakahan tak selalu berujung bencana. Dalam konteks tertentu, misalnya ambisi untuk meningkatkan karier atau mendorong inovasi, dorongan “ingin lebih” bisa jadi bahan bakar kemajuan. Persoalannya muncul ketika “ingin lebih” disandingkan dengan “tak peduli pada orang lain”.
Menutup Dompet, Membuka Hati
Kesimpulannya, penelitian ini memberi gambaran bahwa keserakahan bukan sekadar sifat buruk yang dimiliki segelintir orang. Ia adalah kecenderungan psikologis yang bisa dimiliki siapa saja, dalam kadar berbeda. Pertanyaannya, apakah kita bisa mengendalikan nafsu “ingin lebih” agar tetap sehat, tanpa berubah menjadi sikap egois yang merugikan dan korup?