Sistem Budaya dalam Bahasa Aneuk Jamee

Sistem Bahasa Aneuk Jamee, Kabupaten Aceh Selatan
Sumber :
  • https://www.budayaaceh.com/wbtb/bahasa-jamee/19

Budaya, VIVA Bali –Sistem Adat terukir selain bentuk rumah adat. Filosofi adat tidak wujud secara umum seperti bentuk rumah adat. Tetapi bahasa adat menjadi bagian atas identitas adat istiadat. Sistem adat melahirkan sistem budaya.

img_title Mengenal Tradisi Perang Pandan Di Bali, Ritual Sakral Penuh Luka Tanpa Dendam

Sistem adat Suku Aneuk Jamee, khususnya di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dilaksanakan selain yang upacara adat yang terlihat. Jika peneliti menganalisis hukum adat suatu daerah. Maka peneliti menemukan sejarah adat istiadat.

Sejarah Adat Aneuk Jamee juga terukir dalam sejarah bahasa yang disebut Baso Jamu. Dilansir dari DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA ACEH (2026) Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Aneuk Jamee disebut bahasa Jamee atau Jamu.

img_title Sistem Bahasa Jawa dalam Misa Inkulturasi Bahasa Jawa Kota Semarang

DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA ACEH (2023) menjelaskan kosa kata bahasa Jamee lebih dominan dari bahasa Minangkabau daripada bahasa Aceh

Contoh bahasa adat menurut Hukum Adat 

img_title Sistem Adat Negeri Haruku dalam Tradisi Sasi Lompa

Aturan adat Aneuk Jamee dalam berbahasa Jamu terukir dari pola bahasa halus, bahasa sehari-hari dan bahasa terkotor. Bahasa adat berisi sejarah, hingga unsur bahasa. Hukum adat diterjemahkan juga dari peribahasa adat yang berbahasa daerah masing-masing.

Dilansir dari DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA ACEH (2023) bahwa terdapat kata-kata dalam Bahasa Aneuk Jamee yang unik untuk mengatakan sikap bandel seseorang yang melampaui batas wajar yaitu “Mada” ini merupakan kata yang sangat kasar dan jarang di ucapkan oleh generasi sekarang maknanya tidak mendengar apa yang dikatakan orang, “Binga” merupakan kata yang mempunyai arti yang sama dengan “Mada” ini juga kasar tapi masih ada yang menggunakannya dalam berkomunikasi sehari-hari.

DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA ACEH (2023) memberi contoh kedua, tindakan salah yang dilakukan berulang-ulang padahal sudah ditegur tapi tidak berhenti disebut “Ganjiye, batat”. DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA ACEH (2023) menguraikan jika kata “Ganjiye” digabungkan dengan kata “Na” menjadi “Ganjiye na” memiliki makna sangat bandel.

DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA ACEH (2023) menyimpulkan contoh terakhir, kata “Yo” ditambahkan dengan kata “Ganjiye” menjadi “Yo ganjiye” akan bermakna sangat bandel juga, kata “Na” dan “Yo” pada umumnya bermakna sangat.