Kemegahan Sendatari Ramayana di Pelataran Prambanan
- https://www.tripadvisor.co.id/Attraction_Review-g2304080-d7055583-Reviews-Ramayana_Ballet_at_Prambanan-Sleman_Sleman_District_Yogyakarta_Region_Java.html
Budaya, VIVA Bali –Menjelang senja di ufuk barat Yogyakarta, atmosfer magis mulai menyelimuti kompleks Candi Prambanan. Di balik siluet candi Hindu terbesar di Indonesia yang menjulang gagah, sebuah perhelatan seni kelas dunia bersiap dimulai. Sendratari Ramayana Prambanan bukan sekadar pertunjukan tari biasa, melainkan sebuah mahakarya yang menyatukan ragam kesenian Jawa dalam satu panggung spektakuler.
Sejak pertama kali dipentaskan pada tahun 1961 atas inisiatif Letnan Jenderal GPH Djatikoesoemo, pertunjukan ini telah menjadi ikon pariwisata yang mendunia, bahkan meraih penghargaan Guinness World Record sebagai pertunjukan dengan jumlah penari terbanyak. Tanpa sepatah kata pun dialog keluar dari bibir para penari, narasi yang kuat disampaikan melalui gestur tubuh yang indah, gerakan tangan yang maknawi, serta ekspresi wajah yang mendalam, membuat penonton dari berbagai belahan dunia dapat memahami jalan cerita tanpa kendala bahasa.
Setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu malam, Open Air Theater yang berlatar belakang tiga candi utama, yakni Siwa, Wisnu, dan Brahma menjadi saksi keindahan epos Ramayana. Sorotan lampu berwarna-warni yang menerangi candi menciptakan latar belakang yang dramatis, seolah menghidupkan kembali relief-relief yang terpahat pada dinding batu Prambanan. Musik gamelan yang dimainkan secara langsung oleh para pengrawit menghasilkan dentuman ritmis yang selaras dengan gerak lincah ratusan penari, mulai dari pemeran utama, pasukan kera, hingga raksasa Alengka. Saat musim penghujan tiba, kemegahan ini tetap terjaga dengan berpindahnya pementasan ke Gedung Trimurti yang tertutup, memastikan para pencinta seni tetap dapat menikmati keajaiban kisah cinta Rama dan Shinta.
Alur Perjuangan Cinta dan Kesetiaan Abadi
Pertunjukan dibuka dengan sayembara di Kerajaan Mantili untuk memperebutkan Dewi Shinta yang akhirnya dimenangkan oleh Raden Rama Wijaya. Namun, kebahagiaan mereka terusik saat sedang menjalani pengasingan di Hutan Dandaka. Keindahan visual mencapai puncaknya ketika muncul sesosok Kijang Kencana yang sebenarnya adalah jelmaan Marica, abdi Rahwana yang berlari lincah menggoda pandangan.
Tipu muslihat ini berhasil memisahkan Shinta dari perlindungan Rama dan Laksmana, hingga puncaknya Rahwana menculik sang dewi dan membawanya terbang ke Kerajaan Alengka. Penonton dibawa masuk ke dalam emosi yang mendalam, merasakan kesedihan Rama dan keteguhan hati Shinta yang menolak rayuan sang raja raksasa meski harus disekap dalam taman Argasoka yang dijaga ketat oleh para raksasa.