Mamapas Lewu, Ritual Penyucian Agung Suku Dayak

Tradisi Mamapas Lewu, Ritual Penyucian Agung Suku Dayak
Sumber :
  • https://mediacenter.palangkaraya.go.id/ritual-mamapas-lewu-di-palangka-raya-2/

Tradisi, VIVA BaliMamapas Lewu adalah salah satu upacara adat paling sakral dan penting bagi masyarakat Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, khususnya di Kota Palangka Raya. Secara harfiah, nama ritual ini berasal dari bahasa Dayak Ngaju, yakni "Mamapas" berarti menyapu atau membersihkan, sementara "Lewu" merujuk pada kampung atau kota.

img_title Sistem Adat dalam Sejarah Tari Luruk Taggai

Dengan demikian, Mamapas Lewu dapat dimaknai sebagai upacara pembersihan atau penyucian kampung dan lingkungan beserta seluruh isinya untuk menolak bala atau bencana. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam semesta, sebuah konsep yang sangat dijunjung tinggi dalam ajaran Hindu Kaharingan, agama leluhur Suku Dayak.

Filosofi Mendalam Tolak Bala dan Tri Hita Karana

img_title Mengenal Tradisi Pacu Jalur Riau, Perlombaan Perahu Warisan Budaya yang Mendunia

Tujuan utama pelaksanaan Mamapas Lewu adalah membersihkan Petak Danum atau tanah dan air (simbol lingkungan) dari segala marabahaya, sial, wabah penyakit (Rutas Pali), serta pengaruh-pengaruh gaib yang buruk. Ritual ini dipercaya mampu menetralisir energi negatif yang mungkin ditimbulkan oleh ketidakseimbangan alam atau bahkan perbuatan manusia itu sendiri. Di balik fungsi "tolak bala" tersebut, Mamapas Lewu membawa tiga makna filosofis yang sangat mendalam:

1.      Hubungan Manusia dengan Tuhan (Ranying Hantala Langit)

img_title Menari di Atas Api, Menyingkap Magis dan Filosofi Tari Kecak Bali

Upacara ini adalah wujud nyata dari ucapan rasa syukur kehadapan Ranying Hantala Langit (Tuhan Yang Maha Esa) atas segala anugerah, rezeki, dan perlindungan yang telah diberikan sepanjang tahun. Masyarakat memohon agar diberikan keselamatan, umur panjang, rezeki melimpah, serta ketenteraman lahir dan batin di masa mendatang.

2.      Hubungan Manusia dengan Sesama

Mamapas Lewu memperkuat ikatan kebersamaan dan gotong royong antarwarga. Pelaksanaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, dari pemangku adat, tokoh agama Kaharingan (Basir dan Balian), hingga pemerintah daerah, menjadi simbol persatuan dan kerukunan.

3.      Hubungan Manusia dengan Alam (Petak Danum)

Ritual ini adalah bentuk penghormatan kepada alam semesta dan roh leluhur yang diyakini senantiasa menjaga keseimbangan lingkungan. Hal ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana yang menekankan pentingnya menjaga keselarasan antara spiritual, sosial, dan lingkungan hidup. Mamapas Lewu menjadi pengingat bahwa keharmonisan hidup hanya bisa tercapai apabila hubungan manusia dan alam dijaga dengan baik.

Halaman Selanjutnya
img_title