Mengenal Tradisi Pacu Jalur Riau, Perlombaan Perahu Warisan Budaya yang Mendunia
- https://kemenpar.go.id/berita/mengenal-pacu-jalur-warisan-budaya-riau-yang-kembali-mendunia
Tradisi, VIVA Bali –Tradisi Pacu Jalur dari Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, belakangan menjadi perbincangan hangat di panggung dunia. Perlombaan perahu panjang yang selama ini hanya dikenal masyarakat setempat itu tiba-tiba viral di media sosial global, ditiru banyak selebritas hingga atlet dunia lewat tren yang disebut Aura Farming.
Namun di balik kepopulerannya yang mendadak, Pacu Jalur sesungguhnya adalah warisan budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Kuantan Singingi selama ratusan tahun.
Sejarah dan Makna di Balik Pacu Jalur
Dilaporkan antaranews.com, sejarah Pacu Jalur bermula sejak abad ke-17. Kata jalur sendiri sejatinya merujuk pada perahu panjang yang pada masa lampau menjadi alat transportasi utama warga desa di sepanjang rantau Kuantan, digunakan untuk mengangkut hasil bumi seperti karet dan beras. Seiring waktu, perahu yang semula berfungsi sebagai sarana transportasi ini berkembang menjadi ajang perlombaan tahunan yang digelar setiap bulan Agustus, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Masih menurut viva.co.id, perahu jalur yang digunakan dalam perlombaan ini dibuat dari kayu utuh dengan panjang mencapai 25 meter, bahkan lebih, dan mampu ditumpangi puluhan pendayung sekaligus.
Di bagian haluan perahu, berdiri seorang penari yang dikenal dengan sebutan togak luan, bertugas menjaga keseimbangan sekaligus menari mengikuti irama musik tradisional untuk membangkitkan semangat para pendayung di sepanjang lintasan Sungai Batang Kuantan.
Sebelum perlombaan dimulai, setiap tim biasanya turut menjalankan ritual adat dan doa bersama, sebagai wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus permohonan keselamatan selama berlaga di atas air.
Gerakan tari yang dibawakan sang togak luan pun sarat makna, gerakan tangan ke arah sungai melambangkan penghormatan kepada Batang Kuantan, sementara gerakan tangan ke atas menjadi simbol rasa syukur atas keselamatan dan rezeki yang telah diberikan.
Dari Kuansing ke Panggung Dunia Lewat Aura Farming
Dilansir dari soccer.viva.co.id, popularitas Pacu Jalur melonjak drastis usai video seorang penari cilik viral di TikTok. Sosok tersebut adalah Rayyan Arkan Dikha, bocah berusia 11 tahun asal Kuantan Singingi, yang tampil menari di ujung perahu dengan gerakan penuh percaya diri mengenakan pakaian adat Teluk Belanga.