Sistem Adat dalam Sejarah Tari Luruk Taggai
- https://diskominfo.mentawaikab.go.id/2024/11/tujuh-tradisi-di-kepulauan-mentawai.html
Tradisi, VIVA Bali –Sistem Adat terukir dari paham alam dan budi pekerti. Adat istiadat menjawab juga mengenai identitas budaya. Selain dikenakan dalam Upacara Adat atau Acara resmi kerajaan. Adat istiadat memiliki filosofi adat yang tertuang turun-temurun.
Filosofi adat berfungsi untuk memberi kearifan lokal untuk menyelesaikan masalah yang dialami masyarakat. Filosofi Adat juga bercerita mengenai gerakan dari alam selain ruh atau arwah. Filosofi adat terukir di darat dan di pulau kecil melalui zona tertentu.
Peran filosofi adat dalam kenduri laut menjadi sistem adat dalam struktur masyarakat tradisional. Filosofi adat mengukir makna hasil profesi. Makna kearifan lokal juga mengandung unsur sejarah.
Sejarah pengobatan ini dilakukan juga oleh dokter tradisional khas Mentawai, Sikerei dalam sejarah. Unsur sejarah ini ditemukan dalam Tari Turuk Laggai di Pulau Siberut, Tua Pejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat.
Corak upacara ini adalah tradisi pengobatan tradisional yang dilaksanakan utamanya di pulau-pulau kecil. Kearifan lokal dalam tradisi ini adalah identitas tradisi ini bergantung pada adaptasi masyarakat dan kekayaan alam di daratan.
Dijelaskan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai (2024) Adaptasi masyarakat di alam tertuang dalam Tari Khas Suku Mentawai, Turuk Laggai.
Sistem Adat dalam Tradisi Turuk Laggai
Aturan adat Mentawai dalam mengobati pasien dan evaluasi profesi tertuang dalam Tari Turuk Laggai kas Suku Mentawai. Tradisi ini dianalisis sudah ada sejak zaman Agama Asli Nusantara dalam sejarah masyarakat dan Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Hukum Adat juga menjawab paham kehidupan yang memberi pelajaran hidup tentang mencari obat dari alam dan cara merawat pasien lahir dan batin siang dan malam.
Tari Turuk Laggai adalah cermin adaptasi. Diutarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai (2024) “Turuk Laggai merupakan tarian menyerupai gerakan hewan atau binatang yang ada di hutan atau di lingkungan yang mereka tempati”.
Terjadi penyesuaian antara nilai seni, Magis, dan mistis melalui Tari Turuk Laggai. Dikemukakan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai (2024) “Hewan yang mereka tirukan itu seperti elang, monyet, ayam bahkan hampir seluruh binatang yang ada di lingkungan mereka”.