Mengenal 5 Ritual Sakral Tolak Bala Suku Bugis

Potret Suku Bugis
Sumber :
  • https://www.instagram.com/p/DCjb8bxS_jv/?igsh=MXRrMmp5amM2dTI3Yw==

Tradisi, VIVA Bali –Suku Bugis di Sulawesi Selatan dikenal memiliki sistem nilai budaya yang kaya dan spiritualitas yang kuat. Salah satu tradisi yang masih bertahan lintas generasi adalah ritual tolak bala, upacara adat yang dimaksudkan untuk menghindarkan manusia dari bencana, penyakit, atau gangguan makhluk halus.

img_title Sistem Adat dalam Pakaian Bagajah Gamuling Baular Lulut

Tradisi ini tidak sekadar bentuk kepercayaan lokal, melainkan juga ekspresi filosofi hidup masyarakat Bugis yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia roh. Melalui berbagai upacara seperti Songkabala, Mappasili, Mappano, Bubur Asyura, hingga Maccera’ Bola, masyarakat Bugis menjaga harmoni sosial dan spiritual di tengah perubahan zaman.

 

img_title Sistem Adat dalam Cagar Budaya Kepulauan Mentawai

1. Songkabala

Tradisi Songkabala merupakan tradisi paling dikenal dalam rangkaian tolak bala Suku Bugis. Kata songka berarti menolak, sementara bala berarti bencana atau musibah. Ritual ini menjadi inti utama dari kepercayaan Bugis terhadap kekuatan spiritual yang menjaga kehidupan manusia.

img_title Nadran, Tradisi Sedekah Laut Nelayan Cirebon yang Kini Jadi Warisan Budaya

Upacara biasanya dilakukan menjelang waktu magrib, momen pergantian antara siang dan malam yang dianggap paling rawan karena diyakini banyak roh jahat berkeliaran. Seorang Bissu (pendeta adat Bugis) memimpin prosesi ini dengan doa dan pembakaran sabut kelapa dalam wadah tanah liat.

Simbol sabut kelapa yang terbakar melambangkan pembersihan dan perlindungan dari mara bahaya. Buah pisang disiapkan sebagai sesajen. Ujung pisang dipotong (nissunaki), dicuci hingga bersih, lalu dimakan bersama sebagai tanda kesucian dan kebersamaan.

 

2. Mappasili

Tradisi Mappasili berarti “membersihkan” atau “menyucikan diri”. Upacara ini merupakan bentuk penyucian spiritual dan perlindungan dari pengaruh negatif. Air menjadi elemen utama dalam ritual ini, menggambarkan makna pembersihan fisik dan batin.

Ritual Mappasili dilakukan dalam berbagai konteks: sebelum pernikahan, setelah melahirkan, sebelum bepergian jauh, atau ketika seseorang merasa tertimpa kesialan.

Di beberapa daerah seperti Wajo, ritual ini berkaitan erat dengan Mappacci, yaitu prosesi pembersihan spiritual bagi calon pengantin. Para tetua adat memercikkan air suci dan daun sirih ke tubuh peserta sambil melafalkan doa agar terhindar dari malapetaka dan kehidupan berjalan selaras dengan alam.

Mappasili bukan sekadar ritual simbolik, tetapi juga sarana introspeksi diri untuk melepaskan beban batin dan membuka lembaran kehidupan baru dengan hati bersih.

 

3. Mappano

Tradisi Mappano merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur dan sekaligus ritual membuang kesialan. Prosesi ini mengandung nilai spiritual yang dalam, karena masyarakat Bugis percaya bahwa kesejahteraan manusia tidak terlepas dari restu dan keberkahan arwah nenek moyang.

Ritual dilakukan dengan menyiapkan sesajen berupa telur rebus, daun sirih, pisang, dan nasi ketan empat warna (putih, kuning, merah, dan hitam). Warna-warna ini melambangkan empat arah mata angin yang mencerminkan keseimbangan kosmos.

 

4. Bubur Asyura

Bubur Asyura merupakan tradisi yang dilakukan setiap tanggal 10 Muharram dalam kalender Islam. Meski berakar dari ajaran Islam, praktik ini telah berakulturasi dengan nilai-nilai lokal Bugis sebagai bentuk tolak bala, rasa syukur, dan kebersamaan sosial.

Warga Bugis akan membeli barang baru, terutama yang diawali huruf p dalam bahasa Bugis (seperti pejje berarti garam), sebagai simbol pembaruan rezeki.

Selain itu, masyarakat memasak bubur dengan berbagai bahan hasil bumi dan membagikannya kepada anak yatim-piatu serta tetangga. Tindakan berbagi ini dimaknai sebagai cara menghapus bala dan menebarkan keberkahan.

 

5. Maccera’ Bola

Maccera’ Bola (atau Menre’ Bola Baru) adalah ritual tolak bala yang dilakukan saat rumah baru selesai dibangun. Upacara ini bertujuan memohon keselamatan dan keberkahan bagi rumah serta penghuninya.

Ritual dipimpin oleh tetua adat dan melibatkan keluarga besar serta masyarakat sekitar. Seekor ayam atau hewan kecil disembelih sebagai simbol pengorbanan dan penyucian rumah dari pengaruh roh jahat. Darah hewan dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk menolak energi negatif.