Filosofi Rumah Menara dan Kuburan Batu di Desa Adat Ratenggaro
- https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Kampung_Adat_Ratenggaro_-_Sumba.jpg
Budaya, VIVA Bali –Di ujung barat Pulau Sumba, tersembunyi sebuah desa adat yang seolah berdiri di antara masa lalu dan masa kini, yaitu Desa Adat Ratenggaro. Terletak di Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, desa ini dikenal dengan rumah menaranya yang menjulang tinggi dan kuburan batu berukuran raksasa yang berjejer di tepi pantai.
Menurut informasi yang dipaparkan oleh Indonesia.go.id, nama “Ratenggaro” berasal dari kata rate yang berarti kuburan, dan nggaro yang berarti nenek moyang. Dari namanya saja sudah tergambar bagaimana kehidupan di desa ini berpadu erat dengan penghormatan terhadap arwah leluhur. Kuburan batu besar yang tersebar di sekitar rumah adat bukanlah pemandangan menakutkan, melainkan simbol penghormatan dan ikatan abadi antara generasi masa kini dan masa lalu. Setiap batu memiliki ukiran dan bentuk khas yang menandakan status sosial atau peran penting orang yang dimakamkan di sana.
Yang membuat Ratenggaro istimewa adalah arsitektur rumah adatnya yang menjulang tinggi hingga mencapai 15 meter. Rumah-rumah ini dibangun tanpa menggunakan satu pun logam, hanya mengandalkan bahan alami seperti kayu, bambu, dan ilalang. Berdasarkan penjelasan dari Portal Informasi Indonesia, konstruksi rumah dibuat dengan sistem pasak dan ikatan tali rotan, teknik kuno yang diwariskan turun-temurun. Rumah-rumah tersebut terbagi menjadi tiga bagian yang melambangkan dunia atas, tengah, dan bawah.
Selain menjadi simbol budaya, Ratenggaro juga mencerminkan komitmen masyarakat terhadap pelestarian warisan leluhur. Seperti yang dituliskan dalam laman Kantor Staf Presiden (KSP), pemerintah menunjukkan dukungan terhadap keberadaan desa adat seperti Ratenggaro dengan menjaga nilai-nilai kearifan lokal agar tetap hidup di tengah modernisasi. Dalam kunjungan ke Sumba, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan pentingnya pelestarian desa adat bukan hanya sebagai aset pariwisata, tetapi juga sebagai identitas bangsa yang mencerminkan keberagaman budaya Indonesia.
Keindahan Ratenggaro semakin lengkap dengan lanskap alamnya yang menakjubkan. Desa ini terletak di tepi pantai dengan pemandangan laut biru dan padang rumput luas yang membentang sejauh mata memandang. Namun di balik panorama itu, tersimpan filosofi kehidupan yang dalam, bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta, dan segala yang hidup pada akhirnya akan kembali kepada tanah dan leluhur.