Sistem Budaya dalam Wayang Palembang
- https://www.antarafoto.com/id/view/1743013/pertunjukkan-wayang-palembang
Budaya, VIVA Bali –Sistem Adat terukir dari paham tradisi dan akulturasi. Budaya yang bersifat benda lahir atau tercipta dari beberapa peristiwa penting menurut sejarah. Sistem adat memiliki sejarah pola dalam mengajarkan ilmu, penyelesaian sengketa, dan bahasa. Sistem adat melahirkan atau mendirikan kearifan lokal. Kearifan lokal dapat diterjemahkan dengan cara peneliti melihat unsur sejarah maupun unsur sastra.
Sistem adat juga mengandung unsur sastra yang menghidupkan budaya, agama, pendidikan, hingga adat-istiadat. Sistem adat juga menggubah kearifan lokal menggunakan filosofi adat karena filosofi adat menjelaskan pengertian unsur adat dan metode menghidupkan adat istiadat. Nasehat yang ditutur sebagai sastra lisan akhirnya menjadi sastra tulis dalam kearifan lokal.
Peneliti berbicara mengenai budaya drama. Budaya drama dalam adat istiadat berisi unsur seperti naskah atau skenario, tokoh, alur cerita, sampai amanat atau nasehat. Budaya drama tak hanya berisi saat-saat musibah, kejadian tragis semata. Budaya drama memiliki kearifan lokal seperti wayang orang, wayang golek, dan wayang kulit.
Sistem wayang diciptakan atau dilahirkan melalui budaya juga ditemukan dalam Wayang Palembang. Dilansir oleh Rochmiatun (2021) “Seperti diketahui, “Wayang Palembang” adalah wayang kulit seperti halnya di Jawa, namun dalam hal pemakaian bahasa oleh seorang “dalang” dalam pementasan cerita memakai bahasa Melayu Palembang (Bebaso Palembang)”.
Sejarah pagelaran wayang daerah diharapkan terus berkembang dan lestari. Disampaikan oleh Rochmiatun (2021) “Wayang Palembang terus berkembang pada masyarakat Palembang, hal tersebut terbukti bahwa pada tahun 1943 pementasan wayang Palembang digelar di Seberang Ulu (Kertapati)”. Adat istiadat menjawab juga mengenai identitas budaya karena adat istiadat telah menerima wayang sebagai produk budaya sejak zaman kerajaan.
Diungkapkan oleh Rochmiatun (2021) “Keberadaan wayang Palembang menunjukkan adanya pertemuan atau kontak budaya yang akhirnya menciptakan akulturasi maupun sinkretisasi budaya, sehingga budaya translokal yang berbaur dengan budaya lokal pun dapat terjelma dalam sebuah seni wayang.
Kearifan Lokal Wayang Palembang
Wayang kulit tidak berisi amanat berupa pelajaran karakter kepada manusia. Tetapi berupa kearifan nama tokoh dalam wayang. Rochmiatun (2021) menceritakan “Dapat dikatakan bahwa kontak melahirkan proses peniruan, penyatuan, pengubahan berbagai macam unsur kebudayaan yang datang dari luar dengan unsur-unsur kebudayaan yang telah ada dalam masyarakat penerimanya”. Rocmiatun (2021) memberi contoh “Selain itu terdapatnya tokoh-tokoh pewayangan yang diberi gelar seperti halnya gelar yang ada di Palembang seperti “ Kiagus Petruk”, “Kiagus Gareng” dan sebagainya”.