Lebih Sakit dari Putus Cinta? Yuk Kenali Friendship Breakup!
- https://www.pexels.com/photo/couple-having-a-conflict-6134957/
Lifestyle, VIVA Bali –Pernah gak sih kamu ngerasa tiba-tiba jauh sama sahabat yang dulu hampir tiap hari bareng? Atau ada momen di mana kamu sadar, hubungan pertemanan yang dulunya bikin nyaman sekarang malah terasa asing? Fenomena kayak gini sering banget terjadi, tapi jarang dibahas secara terbuka.
Banyak orang setuju kalau friendship breakup bisa terasa lebih nyakitin dibanding putus cinta. Soalnya, sahabat itu sering jadi tempat cerita, pelarian, bahkan “rumah” kedua kita. Tapi, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan friendship breakup itu? Kenapa bisa terjadi dan gimana cara ngadepinnya? Di artikel ini, kita bakal kupas lebih dalam soal fenomena ini. Jadi, simak sampai selesai ya!
Dilansir dari laman Charlie Health, friendship breakup adalah akhir dari berakhirnya hubungan dengan teman dekat atau sahabat. Fenomena ini terkadang sama emosionalnya dengan putusnya hubungan asmara. Ini karena ikatan dan dukungan yang diberikan oleh sahabat menjadi hilang. Selain itu, putusnya hubungan pertemanan juga melibatkan beragam emosi seperti merasa sedih, marah, hingga berduka.
Proses untuk pulih dari breakup ini membutuhkan waktu yang cukup panjang. Kita harus bisa jujur pada perasaan diri kita sendiri, pelan-pelan menerima apa yang telah terjadi, lalu mencoba memahami kenapa hubungan tersebut bisa berakhir. Selama proses tersebut, gak ada salahnya untuk cerita ke orang lain yang kita percaya supaya kita gak ngerasa sendirian. Setelah itu, kita bisa mulai membuka diri lagi untuk berteman dengan orang-orang baru.
Sama seperti hubungan romantis, pertemanan juga bisa mengalami pasang surut. Kadang-kadang, walaupun gak ada niat untuk saling menyakiti, hubungan itu tetap bisa retak dan berujung dengan putus. Tapi, sebenarnya apa saja sih yang bisa menjadi penyebab berakhirnya sebuah pertemanan?
- Jarak Semakin Jauh
Seiring waktu, kesibukan dan lokasi yang berbeda bisa membuat jarak secara fisik maupun emosional semakin terasa. Komunikasi yang gak serutin dulu bisa membuat hubungan menjadi renggang. Kadang-kadang, rasa “gak nyambung” bisa muncul lagi karena sudah jarang bertemu dan berkomunikasi.