Seblang Banyuwangi, Tarian Mistis Pembersih Desa
- https://cakdurasim.com/laporan-utama/dokumentasi-karya-budaya-seblang-banyuwangi
Budaya, VIVA Bali –Tari Seblang adalah salah satu warisan budaya paling kuno dan sakral dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah ritual adat yang kental dengan unsur mistis dari masyarakat Suku Osing. Bukan tanpa alasan, ritual ini dilakukan untuk membersihkan desa dari segala bala dan malapetaka.
Makna Filosofis Tari Seblang
Istilah "Seblang" dipercaya merupakan singkatan dari frasa bahasa Osing, "Sebele Ilang" yang secara harfiah berarti hilangnya kesialan atau hilangnya bala bencana. Melalui tarian ini, masyarakat Suku Osing memohon kepada Tuhan dan leluhur agar desa mereka dilindungi, dianugerahi panen yang melimpah, serta terhindar dari penyakit dan bahaya. Tidak hanya itu, Seblang juga merupakan simbol kekuatan dan kesuburan yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, dengan bukti sejarah pelaksanaannya di Desa Olehsari sudah tercatat sejak tahun 1930-an.
Dua Versi Seblang, Olehsari dan Bakungan
Meskipun memiliki nama yang sama dan tujuan ritual yang serupa, pelaksanaan Tari Seblang hanya digelar di dua desa di Kecamatan Glagah, yaitu Desa Olehsari dan Desa Bakungan, dengan perbedaan waktu, penari, dan durasi yang signifikan. Namun, terlepas dari perbedaannya, pemilihan penari di kedua desa dilakukan secara supranatural oleh dukun setempat dan wajib berasal dari garis keturunan penari Seblang terdahulu.
· Waktu Pelaksanaan: Desa Olehsari menggelar ritual ini selama tujuh hari berturut-turut setelah Hari Raya Idul Fitri, dilaksanakan pada sore hari. Sedangkan Desa Bakungan hanya melaksanakannya satu malam penuh setelah Magrib, biasanya satu minggu setelah Hari Raya Idul Adha.
· Penari yang Dipilih: Masyarakat Desa Olehsari memilih anak perempuan yang belum baligh (sekitar 9 tahun) atau disebut Mojoputri untuk melaksanakan tarian ini. Sementara, Desa Bakungan menunjuk wanita yang sudah berumur 50 tahun ke atas atau sudah menopause.
· Iringan Musik: Dalam pelaksanaannya, Desa Olehsari menggunakan kendang, kempul/gong, sarong, dan biola untuk mengiringi sang penari. Sedangkan, masyarakat Desa Bakungan kerap memakai perlengkapan yang lebih sederhana seperti kendang, kempul/gong, dan sarong.