Budaya Ambil Tirta Paritta sebelum Hari Raya Waisak 2025 di Kabupaten Lombok Utara
- https://rri.co.id/mataram/daerah/1511567/sambut-hari-raya-waisak-2569-2025-umat-buddha-klu-gelar-ritual-pengambilan-tirta-paritta-di-sumur-sakral-pawang-buani
Budaya, VIVA Bali –Budaya luhur memiliki tujuan luhur berdasarkan filosofi spiritual yang baik. Tuntunan luhur yang juga menjelaskan contoh-contoh budaya luhur secara tidak langsung. Budaya menghormati makna spiritual tersebut akan menjadi jawaban umat dari kesulitan kepada kemudahan hidup. Tidak sedikit Umat Buddha dari berbagai wilayah yang rajin melaksanakan Dhamma dan sila-sila agama Buddha untuk mendapat pelajaran yang baik hingga masa depan yang lebih baik menurut ajaran Buddha. Umat Buddha dari berbagai daerah menyiapkan diri untuk menghormati makna-makna religius menjelang Waisak menurut ajaran Buddha. Terutama Umat Buddha yang rajin beribadah dan melaksanakan sila-sila agama Buddha, ada yang mampu melaksanakan Hari Raya Waisak dengan memasuki detik-detik Waisak di kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah dan sekitarnya hingga melaksanakan tradisi melepas lampion berisi api. Hanna (dalam rri.co.id, 2023) mengutarakan umat Buddha menerapkan 5 Sila Buddha bukan hanya dilakukan pada saat menyambut Hari Waisak saja, tetapi juga diterapkan pada kehidupan sehari-hari karena 5 sila agama Buddha yang terdapat pada kitab Tripitaka dan harus dipatuhi. Tradisi memandikan patung Siddharta dilaksanakan dengan khidmat menjelang tradisi Waisak. Hanna (dalam rri.co.id, 2023) menulis sebelum hari Waisak tiba, para umat Buddha melakukan ritual mandi dengan membersihkan patung Siddharta (sang Buddha Gautama) yang bermakna dapat menyucikan hati dan pikiran umat. Hanna (dalam rri.co.id, 2023) menulis tradisi sakral ini dilakukan di Wihara-wihara, para umat yang hendak melakukannya harus antre hingga saat prosesi memandikan patung Buddha berlangsung, terdengar juga diiringi doa-doa yang dibacakan biksu.
Hanna (dalam rri.co.id, 2023) menulis perayaan hari Waisak memang diidentikkan dengan makna cahaya yang menembus kegelapan hati dan dunia, salah satu tradisi Waisak adalah menyalakan lilin sehingga pada penutupan Hari Waisak setelah umat Buddha memasuki prosesi Detik-detik Waisak, semua umat Buddha akan melaksanakan tradisi selama Waisak dengan menyalakan lilin hingga lepas lampion terutama umat Buddha yang merayakan Waisak di Kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah dan sekitarnya. Triyanto (dalam ntt.kemenag.id, 2018) menulis dalam kalangan umat Buddha Theravada, Mahayana, dll. Hari raya Waisak sering disebut juga dengan Tri Suci Waisak bukan tanpa alasan sebab pada hari raya Waisak, umat Buddha dari banyak aliran akan memperingati sambil merenungi tiga peristiwa penting yang semuanya terjadi di bulan “Vesakha”, dan pada waktu yang sama seperti waktu yang bertepatan saat bulan purnama: Peristiwa lahirnya Yang Mulia Paduka Pangeran Sidharta Gautama, seorang anakanda Yang Mulia Paduka Raja Sudodhana dan seorang Permaisuri yang bernama Yang Mulia Paduka Ratu Permaisuri Mahamaya yang dilahirkan ke dunia sebagai seorang Bodhisatva (Calon Buddha, Calon Seseorang yang akan mencapai Kebahagiaan Tertinggi) di Taman Lumbini pada tahun 623 Sebelum Masehi; Yang Mulia Pangeran Siddharta Gautama mencapai penerangan sempurna yang mana tatkala berusia 29 tahun Yang Mulia Paduka Pangeran pergi meninggalkan istana dan anak istrinya menuju hutan mencari kebebasan dari 4 peristiwa yang beliau lihat dimulai dari LAHIR, TUA, SAKIT dan MATI yang dilanjutkan peristiwa pada usia 35 tahun pada saat purnama Sidhi di bulan Waisak Petapa Sidharta Gautama mencapai penerangan sempurna menjadi Sang Buddha hingga Sang Buddha menyebarkan dhamma selama 45 tahun; Peristiwa Paribbana kepada Petapa Sidharta atau Paribbana pada usia 80 tahun di Kusinara yang mana peristiwa ini terjadi setelah Sang Buddha Gautama menyebarkan ajaran Buddha sejak usia 35 tahun atau setelah mencapai penerangan sempurna akhirnya semua makhluk termasuk para Dewa serta anggota Sangha semua bersujud sebagai tanda penghormatan terakhirnya kepada Sang Buddha. Triyanto (dalam ntt.kemenag.id, 2023) menyimpulkan ketiga peristiwa agung ini merupakan sejarah singkat mengenai makna spiritual Hari Raya Trisuci Waisak Bagi Umat Buddha yang biasanya para umat Buddha merayakan hari Trisuci Waisak ini dengan pergi ke Vihara melakukan Puja Bakti, membaca parita Suci, bermeditasi, mendengarkan khotbah Dhamma dengan tujuan mengingat kembali ajaran kebenaran dari guru agung sang Buddha.