Mitos Ora Ilok di Mata Gen Z
- https://unsplash.com/id/foto/orang-orang-berdiri-di-dekat-patung-putih-dan-hitam-Hr1bjtoUJTo?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink
Budaya, VIVA Bali – Mitos ora ilok, sebuah larangan tak tertulis dalam budaya Jawa yang dipercaya membawa nasib buruk, selalu menarik dibahas. Mitos yang dahulu dipegang teguh oleh setiap anggota keluarga, kini sering kali ditanggapi dengan candaan oleh generasi muda. Perbedaan respons yang menandai perbedaan nilai tradisional orang tua dan pola pikir milenial dan Gen Z.
Ira Mayasari, seorang akademisi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Indraprasta PGRI mendedahnha dalam jurnal berjudul "Mitos Ora Ilok dalam Pandangan Masyarakat Jawa Antara Kepercayaan dan Sanggahan Sebagai Bentuk Kesembronoan (Kajian Pragmatik)" menganalisis respon verbal kaum muda.
Ira membongkar bagaimana sanggahan-sanggahan tersebut diucapkan dan diinterpretasikan. Hasil utamanya menunjukkan bahwa sanggahan yang diucapkan generasi muda adalah manifestasi dari ketidakpercayaan mereka terhadap mitos ora ilok itu sendiri. Alih-alih merespons secara serius, mereka memilih jalur humor.
Secara teoritis, membantah nasihat dari orang yang lebih tua seringkali diklasifikasikan sebagai ketidaksantunan berbahasa (impoliteness). Namun, berdasarkan temuan, sanggahan di Temanggung ini masuk dalam kategori spesifik kesembronoan (Frivolity). Kesembronoan diartikan sebagai perilaku berbahasa yang tidak serius, tujuannya sekadar humor atau gurauan.
Dengan kata lain, frivolity adalah mekanisme linguistik yang digunakan oleh anak muda untuk mengungkapkan penolakan atau ketidaksetujuan secara halus. Ini menjadi cara yang efektif agar mereka tetap bisa menyanggah larangan tanpa harus dicap sebagai anak yang tidak sopan atau durhaka. Hal ini membuktikan bahwa mitos ora ilok telah bergeser fungsi.
Salah satu subkategori yang paling dominan ditemukan adalah Sinisme dengan Ejekan. Sanggahan ini ditandai dengan sikap mengejek atau terkesan merendahkan, seringkali dengan nada tinggi atau implikasi bahwa orang tua memiliki maksud tersembunyi.
Contoh yang dimaksud adalah ketika dilarang makan pantat ayam (brutu), jawaban yang muncul adalah "Brutu enak-enak kok ora ilok. Padune arak dipangan" (Brutu enak-enak kok tidak baik. Bilang saja mau dimakan).
Kategori lain yang menarik adalah Asosiasi dengan Gurauan yang ditemukan dalam respons terhadap mitos siul malam hari. Mitos tersebut mengatakan bersiul malam hari dapat mengundang setan.
Ira Mayasari mengutip langsung salah satu tuturan yang ditemukan dalam penelitiannya, sebagai bukti bagaimana humor digunakan untuk meruntuhkan larangan, "Jare sinten singsot kok ngundang setan. Lha kulo singsot malah mbah sing methungul. Hahahah."
Artinya, ketika diperingatkan bahwa bersiul mengundang setan, sanggahan muncul bahwa yang datang justru mbah (nenek) si penutur, bukan setan. Ini adalah cara cerdas untuk mengaitkan entitas mitologi dengan kehadiran fisik seorang mbah demi tujuan bercanda, menunjukkan ketidakseriusan pada larangan siul itu sendiri.
Contoh dari Melucu dengan Gurauan adalah ketika dilarang duduk di depan pintu karena dapat menjauhkan jodoh (adoh jodo). Sanggahan yang dilontarkan adalah "Berarti nek ndodok oleh to?" (Berarti kalau jongkok boleh kan?), menggunakan perbedaan posisi duduk untuk menanggapi mitos secara jenaka. Ini semakin memperkuat argumentasi bahwa sanggahan ini adalah bentuk negosiasi kebahasaan antar generasi.
Ira Mayasari menyimpulkan bahwa melalui enam subkategori kesembronoan yang ditemukan, termasuk Seruan dengan Gurauan dan Kesombongan dengan Gurauan, generasi muda menunjukkan pergeseran nilai.
Mitos ora ilok tidak lagi diterima sebagai dogma, melainkan direspons dengan humor rasional. Dengan demikian, di desa-desa Jawa, larangan tradisional kini bertransformasi menjadi materi stand-up comedy kasual yang menjembatani kesenjangan pola pikir antar generasi.