Darurat Sampah, Pemkot Mataram Dorong Program “Tempah Dodoro” Hadir di 50 Kelurahan

Pemeriksaan Saksi di Kasus Dugaan Penipuan Terdakwa Togar Situmorang
Sumber :
  • Dewi Umaryati/ VIVA Bali

Mataram, VIVA Bali –Pemerintah Kota Mataram tengah menghadapi darurat sampah pasca-pembatasan pembuangan sampah ke TPA Kebon Kongoq yang mulai diberlakukan pada 10 Desember 2025. Akibat kebijakan baru tersebut, tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Sandubaya kini mencapai ribuan ton. Untuk merespons kondisi kritis ini, Wali Kota Mataram Mohan Roliskana gencar menggalakkan pengolahan sampah di tingkat lingkungan dan mendorong masyarakat memilah sampah sejak sumbernya.

img_title Satu ASN Mataram Diberhentikan Akibat Indisipliner, Lima Pegawai di Periksa

Pemkot Mataram telah mengeluarkan surat edaran kepada warga agar memisahkan sampah organik dan non-organik di rumah masing-masing. Langkah ini dipandang krusial untuk memudahkan proses pengolahan lebih lanjut.

Sebagai salah satu terobosan alternatif, Pemkot memperkenalkan program pengomposan skala lingkungan bernama “Tempah Dodoro”. Wali Kota Mohan Roliskana secara langsung meninjau pelaksanaan pilot project di Lingkungan Marong, Kelurahan Karang Baru, Kecamatan Selaparang. 

img_title Tiap Tahun Terendam, Dewan Soroti Keseriusan Pemkot Mataram Atasi Genangan Jalan Dr Soedjono

"Rata-rata timbulan sampah organik di satu lingkungan Marong mencapai 200 kilogram per hari. Dengan metode Tempah Dodoro, timbulan sampah organik dapat direduksi hingga 50 persen, atau menjadi sekitar 100 kilogram per hari. Kompos hasil pengolahan dikumpulkan setahun sekali, kemudian wadah komposter kembali digunakan untuk periode berikutnya," Terang Mohan Selasa 13 Januari 2025.

Menyambut hasil uji coba yang dinilai berhasil dan didukung antusiasme warga, wali kota memutuskan memperluas program ke 50 kelurahan. Anggaran untuk masing-masing lokasi diperkirakan mencapai Rp 800.000 termasuk biaya pembuatan wadah komposter (dudukan bangku atau model flat dengan harga lebih murah).

img_title Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Terjang Mataram, Masyarakat di Minta Waspada

Pemetaan wilayah percontohan akan ditentukan oleh lurah setempat. Motor penggerak program akan berasal dari kepala lingkungan untuk memudahkan pengawasan dan pendampingan warga.

Selain Tempah Dodoro, Pemkot Mataram juga sedang berjalan pembangunan fasilitas insinerator modern dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo. Kombinasi pengolahan skala lingkungan dan skala kota diharapkan mampu menekan volume sampah sebelum dikirim ke TPA regional.

Ekspansi ke Sektor Publik dan Komersial

Ke depan, kebijakan pemilahan dan pendirian komposter mini akan diperluas ke kantor pemerintahan, sekolah, pertokoan, hingga perumahan. Harapannya, kesadaran masyarakat tumbuh mandiri menciptakan wadah pengolahan sampah di kompleks tempat tinggal masing-masing.

Halaman Selanjutnya
img_title