Kota Mataram Kembali Darurat Sampah, Eks Lahan Pondok Galih Bakal jadi TPS Darurat
- Ramli Ahmad / VIVA Bali
Mataram, VIVA Bali –Kota Mataram kembali dilanda darurat sampah menyusul pembatasan pengiriman sampah ke Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongoq mulai 10 Desember 2025 hanya satu ritase per hari. Kondisi itu memaksa Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mencari lokasi sementara (TPS darurat) untuk menampung tumpukan sampah, sembari menunggu izin pengiriman normal ke TPA kembali pulih.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, mengatakan, sejauh ini ada dua titik yang sedang di kaji disiapkan sebagai TPS darurat.
“Yang pertama di TPS Sandubaya. Lahan milik pade Angen di situ masih bisa kami pinjam untuk perluasan,” ujar kepala Dinas Lingkungan Hidup. Senin, 15 Desember 2025.
Opsi kedua, menurut Nizar, adalah lahan eks lesehan Pondok Galih di Kelurahan Jempong Baru, wilayah lingkar selatan Mataram.
“Ini kami pakai sebagai alternatif jika Sandubaya tidak mencukupi lagi,” tambah Denny.
Sementara menunggu kepastian pengiriman sampah ke Kebon Kongoq, Pemkot Mataram mengadopsi sistem keruk-timbun. Setiap hari, petugas akan menggali lubang di TPS darurat, menimbun sampah di dalamnya, dan ketika izin kirim ke TPA kembali normal, sampah di TPS tersebut akan diangkat dan diangkut ke Kebon Kongoq.
Pembatasan pengiriman menjadi satu ritase per hari ini jauh di bawah kapasitas normal, yakni tiga ritase per hari.
“Biasanya kita bisa kirim tiga ritase, masing-masing sekitar 210 ton. Dengan hanya satu ritase, berarti ada dua ritase (sekitar 140 ton) yang harus kita titipkan di TPS darurat setiap hari,” jelas Denny.
Akumulasi sampah yang tidak terangkut ke TPA kini telah menembus ribuan ton.
“Saat ini lebih dari seribu ton sampah menumpuk di berbagai titik,” ungkap Nizar.
Ia menambahkan, Pemkot sejatinya tidak memiliki lahan kosong memadai di dalam wilayah kota.
“Kalau di Lombo Barat masih banyak lahan kosong, tapi di Mataram kita benar-benar kesulitan lahan,” kata Nizar.
Sebagai upaya jangka menengah, Pemkot juga tengah menanti kedatangan insinerator (alat pembakaran sampah) yang dijadwalkan tiba bulan ini.
“Insinerator ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah sebelum dibuang,” ujarnya.
Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan pengiriman sampah ke TPA Kebon Kongoq kembali normal. Pemkot Mataram terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi serta pihak pengelola TPA untuk mempercepat solusi. Sementara itu, warga diimbau tetap disiplin memilah dan mengurangi volume sampah rumah tangga.