Kolaborasi Pemerintah Adat Komunitas Menguat di Pemulihan TWA Panelokan
- https://rri.co.id/denpasar/daerah/1974456/upacara-guru-piduka-dan-penanaman-di-panelokan
Bangli, VIVA Bali –Upaya pemulihan kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Panelokan di Kintamani menunjukkan penguatan sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, dan komunitas generasi muda. Ketiganya terlibat bersama dalam Upacara Guru Piduka dan penanaman pohon di area bekas bangunan kedai yang telah dibongkar sebagai bagian dari pengembalian fungsi kawasan.
Dalam prosesi yang dipimpin Pemangku Desa Adat Kedisan tersebut, unsur niskala dan sekala hadir berdampingan. Pemerintah daerah hadir melalui jajaran perangkatnya, sementara komunitas Kader Konservasi BKSDA Bali didorong terlibat aktif sebagai generasi penerus pengelolaan lingkungan.
Usai upacara, peserta menanam 120 bibit pohon terdiri dari puspa, beringin, cemara gunung, dan ampupu yang dipilih karena sesuai dengan karakter dataran tinggi dan berperan menjaga kestabilan tanah serta kesejukan lingkungan.
Dikutip dari rri.co.id/denpasar, Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko, menegaskan bahwa kolaborasi lintas unsur ini merupakan fondasi baru dalam pengelolaan kawasan konservasi.
“Balai KSDA Bali berusaha menerapkan prinsip menghargai masyarakat adat, menghargai kearifan lokal, karena mereka adalah subjek pengelola. Kita harus terus memperoleh dukungan dari masyarakat sekitar kawasan, dan saya percaya pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Ini adalah bagian awal dari menguatkan kebersamaan, pengelolaan kawasan konservasi yang humanis sesuai dengan karakter bangsa Indonesia,” ujarnya, Kamis (13/11/2025).
Sekda Kabupaten Bangli juga menilai pendekatan kolaboratif berbasis budaya merupakan kunci keberhasilan pemulihan kawasan.
“Baik sekala maupun niskala telah kita laksanakan dengan BKSDA Bali, dan kami mengapresiasi sepenuhnya atas langkah-langkah yang sudah dilalui oleh BKSDA Bali, karena pelestarian alam akan lebih kuat jika dilakukan bersama-sama dengan nilai-nilai kearifan lokal,” katanya.
Kolaborasi antara pemerintah, adat, dan komunitas ini diharapkan menjadi model pengelolaan konservasi yang lebih humanis dan sesuai karakter Bali, sekaligus memperkuat pemulihan TWA Panelokan secara berkelanjutan.