BKSDA Bali Selamatkan Trenggiling Langka, Stop Perburuan Satwa Dilindungi!
- BKSDA Bali
Tabanan, VIVA Bali –Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali bersama Yayasan Friends of Nature, People and Forest (FNPF) sukses melepasliarkan trenggiling langka ke habitat aslinya di Hutan Lindung Besi Kalung.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian satwa liar dengan melepasliarkan satu ekor trenggiling (Manis javanica) ke habitat alaminya di Hutan Lindung Besi Kalung, Penebel, Tabanan.
Kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan Yayasan Friends of Nature, People and Forest (FNPF) dan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk melindungi satwa yang terancam perburuan dan perdagangan ilegal.
Melansir rilis yang diterima bali.viva.co.id, Kepala BKSDA Bali, Ratna Hendratmoko, menjelaskan, Hutan Lindung Besi Kalung memiliki kondisi ekologis yang mendukung kehidupan trenggiling.
“Kawasan ini masih terjaga, aman, dan mampu mendukung kebutuhan hidup satwa liar. Pelepasliaran ini adalah bukti nyata komitmen kami dalam menjaga kelestarian satwa dilindungi,” ujar Ratna. Kamis, 22 Januari 2026.
Trenggiling adalah mamalia bersisik yang aktif di malam hari dan termasuk pemakan serangga tanah.
Satwa ini memiliki mekanisme pertahanan unik, yakni menggulungkan tubuhnya saat merasa terancam.
Selain itu, trenggiling memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, karena kemampuannya mengendalikan populasi serangga yang dapat merusak tanah dan tanaman.
Populasi trenggiling di alam kini terancam karena perburuan dan perdagangan ilegal, sebagian besar akibat mitos yang berkembang di masyarakat mengenai khasiat sisik trenggiling untuk pengobatan tradisional.
Akibatnya, jumlah trenggiling di alam terus menurun dan satwa ini masuk kategori rentan punah.
Pelepasliaran yang dilakukan BKSDA Bali diharapkan dapat membantu mempertahankan populasi trenggiling di habitat alaminya.
Trenggiling yang dilepasliarkan ini sebelumnya diserahkan oleh masyarakat kepada BKSDA Bali dan telah menjalani perawatan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tabanan yang dikelola FNPF.
Selama beberapa minggu, satwa tersebut mendapatkan pemeriksaan kesehatan intensif, perawatan nutrisi, dan pengamatan perilaku agar dapat beradaptasi sebelum kembali ke alam liar.
Dokter hewan memastikan satwa sehat dan siap menghadapi tantangan hidup di habitat aslinya.