Dari Layar Lebar ke Halaman Buku

Robin Williams yang puitis di film Dead Poets Society
Sumber :
  • https://m.imdb.com/title/tt0097165/mediaviewer/rm1865468928/?ref_=tt_ph_2

Film, VIVA Bali – Selama ini kita terbiasa mendengar kisah sebaliknya: novel difilmkan. Dari Laskar Pelangi sampai Harry Potter, buku kerap menjadi pijakan utama sebuah film. Namun, penelusuran lewat  LitCharts, The Dissolve, Bradabraham, dan wikipedia memberikan informasi baru. fenomena yang tak kalah menarik, yakni peralihan film populer hingga akhirnya dijadikan novel. Proses ini disebut novelisasi (novelization), dan ternyata sudah lama menjadi bagian dari budaya populer dunia.

James Silva dan Pertarungan Melawan Setan Dalam Dirinya

Salah satu contoh paling terkenal adalah Dead Poets Society (1989). Banyak orang mengira buku karya N.H. Kleinbaum adalah sumber film, padahal ia justru menulisnya setelah film sukses. Kleinbaum mengambil naskah asli karya Tom Schulman, lalu menuangkannya ke bentuk novel, memperluas perasaan batin tokoh-tokoh seperti Todd, Neil, dan Knox. Novel itu bahkan masuk daftar bacaan di banyak sekolah, seolah memang ditakdirkan lahir lebih dulu daripada filmnya.

Fenomena serupa terjadi pada E.T. the Extra-Terrestrial (1982). Setelah filmnya meledak, William Kotzwinkle menulis novelisasi yang begitu populer hingga lahir sekuel novel berjudul E.T.: The Book of the Green Planet. Begitu pula dengan Back to the Future (1985) yang ditulis ulang oleh George Gipe, lengkap dengan detail yang tak pernah masuk layar.

Starvision Resmi Merilis Film terbaru, Simak! Daftar Sinopsis dan Pemerannya

Franchise besar juga tidak ketinggalan. Indiana Jones and the Raiders of the Lost Ark (1981), The Terminator (1984), dan Batman (1989) semuanya memiliki versi novel. Biasanya, novelisasi dirilis berbarengan dengan film untuk menjangkau pasar pembaca yang lebih suka teks, sekaligus menambahkan narasi yang tak bisa ditangkap kamera. Dalamnya monolog batin, latar belakang tokoh, bahkan adegan yang dipotong di ruang editing.

Kasus unik datang dari Star Wars (1977). Alan Dean Foster menulis novelisasinya sebelum film rilis, sehingga saat buku muncul di toko, banyak orang mengira George Lucas sedang mengadaptasi sebuah novel. Padahal, justru sebaliknya.

Madura dalam Cengkraman Rokok Ilegal 30 Juta Batang Disita dalam 8 Bulan, Aparat Terlibat?

Novelisasi sering kali membingungkan publik. Karena bukunya beredar luas, penonton mudah keliru menganggap novel itulah sumber cerita. Padahal, novelisasi justru lahir sebagai bayangan layar lebar, sebuah cara baru untuk menonton film dengan mata pembaca.

Pada akhirnya, novelisasi menunjukkan bahwa cerita bisa berpindah-pindah medium tanpa kehilangan nyawanya. Dari layar ke halaman, dari visual ke imajinasi, kisah-kisah besar tetap menemukan cara untuk hidup lebih lama.

Halaman Selanjutnya
img_title