Budaya Sastra dalam Pernikahan Dayak Maanyan

Sastra Dayak Maanyan dalam Pernikahan Adat Dayak Maanyan
Sumber :
  • https://www.eviindrawanto.com/perkawinan-adat-dayak-maanyan-bagunung-perak-warukin/

Budaya, VIVA Bali –Budaya membaca karya fiksi adalah budaya yang membuka gambaran mengenai filosofis dan edukatif dalam akal atau nalar. Karya sastra daerah ditunjukkan dalam puisi dan prosa. Beberapa bentuk karya sastra daerah disampaikan dengan berlagu dalam acara sakral. Sebagai contoh pembacaan Tarung Sarita dalam pernikahan adat Suku Dayak Maanyan yang dijumpai. Tarung Sarita adalah karya sastra prosa dari Suku Dayak Maanyan dengan filosofi mendalam. Ranrung, Kawi, dan Ismail (1984) menguraikan dalam tradisi pembacaan Sastra Dayak Maanyan, puisi dan prosa ditampilkan dengan bentuk nyanyian atau berlagu hingga dibawa ke dalam pernikahan adat Suku Dayak Maanyan yang mayoritas menghuni Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah dan mengikuti zona Waktu Indonesia Barat. Ranrung, Kawi, dan Ismail (1984) menguraikan dalam adat pernikahan, terdapat kegiatan pembacaan karya sastra Dayak Maanyan yang berupa Tarung Sarita dan Enra Janyawai oleh Wadian yang merupakan tokoh adat atau agama dalam masyarakat Dayak Maanyan.

img_title Sistem Adat Melayu Rokan Hilir dalam Tradisi Menyemah Laut

Nilai Kerohanian Tumet Leut

Budaya membaca karya sastra ditunjukkan dengan memahami filosofi hidup dan mati, relasi agama dan adat, hingga hiburan. Budaya membaca karya sastra berbeda dengan menggambar karya sastra. Biasanya karya sastra prosa seperti Tarung Sarita berbentuk tradisi lisan oleh masyarakat Suku Dayak Maanyan di Kabupaten Barito Selatan, Buntok, Kalimantan Tengah, dan sekitarnya. Biasanya karya sastra seperti Tarung Sarita dinyanyikan dan mengikuti zona Waktu Indonesia Barat oleh Wadian. Ranrung, Kawi, dan Ismail (1984) menguraikan Sastra Dayak Maanyan biasanya karya sastra Dayak Maanyan dibacakan dengan lagu di Kabupaten Barito Selatan, Buntok, Kalimantan Tengah, dan sekitarnya. Nilai kerohanian dalam Tarung Sarita adalah perkenalan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Effrata (2022) menguraikan nama Tuhan dalam agama lokal masyarakat Suku Dayak Maanyan disebut Talamana Tuah Hukat atau Alatala. Ranrung, Kawi, dan Ismail (1984) menguraikan kehidupan sastra lisan Tumet Leut, hingga Tarung Sarita ini bagi masyarakat Dayak Maanyan yang mayoritas menghuni Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, dan sekitarnya sangat penting karena banyak relasi dengan tradisi luhur adat istiadat, dan keagamaan. Mereka (1984) menyimpulkan contoh bahwa salah satu paragraf Tarung Sarita adalah semula huan uweng manusia, luwan sadi naan Tuhan nguasa, alatala ngabariat batajak hang jayang mana bagantung hang sangkul ambun bakaki di atas baka pala di bawah buat manitik dan malihara umat manusia sanasadia daya ini. Mereka (1984) menerjemahkan dari bahasa Dayak Maanyan ke dalam bahasa Indonesia bahwa mula-mula manusia tidak ada, tetapi Tuhan Maha Kuasa bernama Talamana Tuah Hukat atau Alatala, Allah yang Maha Sakti berdiri di awang-awang dan atas sumbu alam yang memiliki kaki yang menghadap atas dengan kepala yang bergantung ke bawah guna melihat dan memelihara umat serta yang sudah diciptakanNya. Jadi fungsi kehidupan dan keberadaan Tarung Sarita tidak hanya dipentaskan dalam rangkaian pernikahan adat saja. Tetapi kehidupannya menjadi bacaan yang memiliki filosofi agama dan adat bagi masyarakat yang membacanya. 

img_title Sistem Motif dalam Batik Jambi