Tradisi Tedak Siten, Langkah Pertama Menapaki Bumi
- https://www.antaranews.com/foto/792123/tradisi-tedak-siten
Budaya, VIVA Bali – Dalam kebudayaan Jawa, setiap fase kehidupan manusia sering kali dirayakan dengan ritual yang penuh simbolisme. Salah satu tradisi yang paling populer dan masih dilestarikan hingga saat ini adalah Tedak Siten. Ritual ini bukan sekadar seremoni keluarga, melainkan sebuah doa visual bagi masa depan sang buah hati.
Apa Itu Tedak Siten?
Secara etimologi, nama tradisi ini berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa:
- Tedak: Berarti turun atau menapakkan kaki.
- Siten (dari kata Siti): Berarti tanah atau bumi.
Jadi, Tedak Siten secara harfiah berarti "turun tanah". Upacara ini dilakukan ketika seorang bayi berusia tujuh bulan dalam penanggalan Jawa (atau sekitar delapan bulan kalender Masehi). Pada usia ini, bayi biasanya mulai belajar berdiri dan berjalan, yang dianggap sebagai momen pertama mereka menyentuh bumi secara mandiri.
Urutan Ritual dan Maknanya
Setiap tahapan dalam Tedak Siten memiliki filosofi mendalam mengenai perjalanan hidup manusia:
1. Meniti Jadah Tujuh Warna
Anak dituntun berjalan di atas tujuh buah tetel atau jadah (makanan dari ketan) dengan warna yang berbeda-beda: merah, putih, hitam, kuning, biru, jingga, dan ungu.
- Maknanya: Warna-warna ini melambangkan rintangan dan pilihan hidup. Dengan melewati semuanya, sang anak diharapkan mampu mengatasi berbagai kesulitan di masa depan.
2. Menaiki Tangga Tebu Wulung
Anak dibimbing menaiki tangga yang terbuat dari tebu jenis Arjuna atau Wulung.
- Maknanya: Tebu berasal dari kata antebing kalbu (kemantapan hati). Menaiki tangga melambangkan cita-cita yang tinggi dan proses pendewasaan yang dilakukan setapak demi setapak dengan penuh tekad.
3. Masuk ke Dalam Kurungan Ayam
Ini adalah bagian yang paling dinanti. Anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang telah dihias cantik. Di dalamnya terdapat berbagai benda seperti buku, uang, mainan alat kedokteran, cermin, hingga alat musik.
- Maknanya: Benda pertama yang diambil oleh anak sering dianggap sebagai simbol minat atau potensi profesi mereka di masa depan.
4. Menyebar Udhik-Udhik
Orang tua menyebarkan udhik-udhik, yaitu campuran uang koin dengan beras kuning dan bunga.