Menyingkap Tabir Kosmos Tumbuhan dalam Lontar Juwarsah

Dari naskah ke konservasi mistik
Sumber :
  • https://unsplash.com/id/foto/wanita-berjaket-coklat-berjalan-di-hutan-di-siang-hari-lHFeRtK49Rw?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink

Budaya, VIVA BaliKeberadaan manuskrip kuno Nusantara adalah khazanah tak ternilai, menyimpan kearifan lokal yang menjadi cerminan pandangan dunia masyarakat lampau. Salah satu naskah penting yang berhasil dianalisis adalah Lontar Juwarsah, sebuah karya yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, dan diperkirakan berusia sekitar 56 tahun.

img_title Sistem Motif dalam Batik Jambi

Melalui lensa Semiotika Roland Barthes, sebuah studi menyingkap lapisan makna tersembunyi. Penelitian ini bertajuk “Makna Terhadap Mitos Relasi Manusia Dan Tumbuhan Dalam Manuskrip Lontar Juwarsah: Kajian Semiotika Roland Barthes”. Penulisnya, Wirdatun Nafi'ah dan Johny Alfian Khusyairi, merupakan peneliti dari Universitas Airlangga yang fokus pada kajian sastra dan budaya.

Secara garis besar, hasil studi ini menyimpulkan bahwa tumbuhan dalam naskah tersebut bukan sekadar latar, melainkan entitas yang memiliki energi vital. "Relasi manusia dan tumbuhan dalam manuskrip Lontar Juwarsah menunjukkan bahwa tumbuhan memiliki kekuatan atau energi," tulis para peneliti dalam abstrak mereka.

img_title Sistem Taat Adat dalam Hukum Adat Dayak Maanyan

Kekuatan atau energi ini sangat dibutuhkan oleh manusia, dan menjadi kunci pemahaman tentang pandangan masyarakat Jawa Kuno terhadap lingkungan sekitar. Studi ini berhasil menguraikan bagaimana mitos tersebut membentuk panduan hidup dan etika ekologis yang diwariskan secara turun-temurun melalui narasi sastra.

Padi dan Mitos Mutualisme Agraris

img_title Sistem Gotong Royong dalam Kenduri Sko Kabupaten Kerinci

Relasi pertama terwujud dalam adegan kerja keras Juwarsah membantu Ni Randa membajak sawah dan merawat tanaman padi di tengah kesulitan hidup. Secara denotasi, adegan ini menggambarkan tradisi bertani sebagai tulang punggung peradaban agraris di Nusantara. Namun, dalam tataran mitos, padi melambangkan lebih dari sekadar makanan pokok semata.

Analisis semiotika menguak bahwa interaksi ini adalah simbol mutualisme agraris yang ideal, di mana padi dan manusia harus saling membutuhkan demi kelangsungan hidup bersama di bumi ini.

Padi memerlukan perlindungan dan perawatan dari manusia untuk dapat tumbuh dan lestari hingga masa panen, sementara manusia bergantung sepenuhnya pada padi. Mitos ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan ekologis, bahwa kehidupan harmonis hanya tercapai jika terjadi hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.

Kulit Kayu dan Penyembuhan

Mitos paling signifikan tersaji ketika Sinarah Wulan menggunakan babakan atau kulit pohon kayu tertentu untuk menghidupkan Juwarsah. Tentu, peristiwa yang diceritakan ini adalah keajaiban yang melampaui logika dan nalar sehat manusia, tetapi menjadi kode konotasi yang sangat kuat dalam budaya pengobatan tradisional.

Halaman Selanjutnya
img_title